Tampilkan postingan dengan label Objek Wisata Dieng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Objek Wisata Dieng. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 November 2015

Objek Wisata Kawah Sileri Dieng

Kawah Sileri merupakan salah satu objek wisata di Dieng Plateau, memiliki bentuk unik berupa kepundan datar, sehingga permukaan air kawah yang selalu mendidih terus mengalir ke permukaan yang lebih rendah. Dengan permukaan air mencapai 4 hektare, kawah Sileri menjadi kawah terluas di wilayah Dataran Tinggi Dieng.

Kawah Sileri masuk dalam wilayah Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, berada di lereng Gunung Gagergedang dan tergolong kawah paling aktif. Memang, aktivitas kawah ini cukup tinggi, sempat beberapa kali meletus, sehingga menjadi kawah yang paling berbahaya di Dieng.

Meskipun dikategorikan sebagai kawah berbahaya, namun Sileri tetap menjadi destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Banyak wisatawan yang sengaja berkunjung ke kawah Sileri untuk menyaksikan keindahan panorama alam di sekelilingnya. Permukaan air yang menunjukkan gejala-gejala aktivitas vulkanis dan terus menerus mengeluarkan asap putih juga menjadi daya tarik tersendiri.

Kawah Sileri Dieng

Luasnya area permukaan kawah membuat suasana di sekitar kawah terasa lebih hangat dibanding suasana Dieng Plateau pada umumnya. Luapan permukaan air kawah terus mengalir melalui saluran kecil dan dimanfaatkan untuk menyirami lahan-lahan pertanian di sekitarnya.

Berwisata ke kawah Sileri memang menjadi aktivitas yang penuh pengalaman menakjubkan, karena kita dapat menyaksikan langsung aktivitas vulkanik. Gejolak air mendidih disertai keluarnya uap panas bisa menggambarkan bagaimana gemuruh aktivitas di perut bumi. Pemandangan alami di sekitar lereng Gunung Pagerkandang semakin menambah pesona alam di Kawah Sileri.

Kawah Sileri Dieng

Nama Sileri berasal dari Bahasa Jawa, yaitu "leri" yang berarti air cucian beras. Memang air di kawah Sileri bewarna putih pekat menyerupai air cucian beras sebelum dimasak.

Waktu terbaik menikmati panorama di Kawah Sileri adalah pagi hari, sekitar jam 06.00. Di pagi hari, uap air yang keluar dari kawah masih menempel di permukaan air, berwarna putih, dan jika ditunggu beberapa saat, seiring dengan terbitnya matahari, perlahan uap tersebut akan tampak seperti terangkat ke atas. Pemandangan seperti ini hanya dapat disaksikan dari kawah Sileri Dieng.

Minggu, 01 November 2015

Objek Wisata Sumur Jalatunda Dieng

Sumur Jalatunda merupakan salah satu objek wisata di wilayah Dataran Tinggi Dieng, masuk dalam kawasan wisata zona 2 Dieng. Secara administratif masuk dalam wilayah Desa Wisata Pekasiran ,Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tenggah. Sumur Jalatunda adalah tempat yang penuh misteri, baik mengenai sejarah terbentuknya maupun mitos-mitos yang berkembang di masyarakat.

Secara fisik bentuk Sumur Jalatunda memang tidak seperti sumur kebanyakan, tetapi lebih merupakan kubangan raksasa, dengan diameter hingga 90 meter dan kedalaman diperkirakan mencapai ratusan meter. Terlepas dari misteri yang menyelimuti dan mitos-mitas yang diyakini masyarakat, Sumur Jalatunda tetap menjadi objek wisata yang menarik untuk dikunjungi, sekaligus merupakan bahan kajian yang perlu mendapatkan perhatian untuk penelitian-penelitian ilmiah.

Sumur Jalatunda

Secara ilmiah, Sumur Jalatunda diperkirakan terbentuk akibat letusan gunung berapi purba jutaan tahun silam yang menyisakan kepundan berupa lubang besar berdiameter hingga 90 meter dan kedalaman ratusan meter. Kawah atau kepundan tersebut kemudian terisi air, menyerupai sumur raksasa. Fenomena terisinya kepundan kawah gunung berapi hingga menyerupai sumur hanya ada dua di dunia. Sumur sejenis dapat ditemukan di daerah Mexico.

Pemberian nama Sumur Jalatunda memang erat kaitannya dengan cerita pewayangan. Dikisahkan dalam cerita Mahabarata, Sumur Jalatunda merupakan jalan menuju ke Jangkar Bumi atau Bumi Sapta Pratala, yaitu tempat dimana Hyang Antaboga dan puterinya, Dewi Nagagini, tinggal.

Dalam kisah tersebut, Raden Bratasena bertemu dengan Dewi Nagagini, yang kemdian menikah dan diberi karunia seorang putera bernama Raden Antareja. Terdapat juga mitos yang berkembang di masyarakat setempat, bahwa Sumur Jalatunda merupakan salah satu gerbang gaib yang menghubungkan Dataran Tinggi Dieng dengan penguasa di Laut Selatan.

Sabtu, 24 Oktober 2015

Objek Wisata Kawah Candradimuka Dieng

Kawah Candradimuka merupakan kawah aktif di Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng. Meskipun kurang populer, namun Kawah Candradimuka tetap menjadi destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Seperti halnya kebanyakan objek wisata di Dieng, nama Kawah Candradimuka juga diambil dari cerita pewayangan, yang merupakan tempat dimana jabang bayi Gathotkaca digembleng dan mendapatkan kesaktian.

Kawah ini berada di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Karena posisinya cukup jauh dari zona 1, yang merupakan kawasan wisata paling populer, maka Kawah Candradimuka kurang diminati oleh wisatawan, sehingga objek wisata ini hampir selalu sepi pengunjung.

Kawah ini memiliki keunikan sendiri yang membuatnya berbeda dengan kawah Sikidang maupun Sileri. Letupan dahsyat dan suara gemuruh yang keluar dari perut bumi merupakan ciri khas Kawah Candradimuka, sehingga terkesan sangat ganas. Memang gejolak aktivitas vulkanik di kawah ini tampak sangat kuat, seolah mengeluarkan letupan-letupan yang ganas.

Foto Kawah Candradimuka

Kawah Candradimuka Dieng

Kawah Candradimuka Dieng


Akses Jalan Menuju Kawah Candradimuka

Untuk menuju ke lokasi Kawah Candradimuka membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit berkendara dari kawasan wisata utama Dieng. Oleh karena itulah wisatawan lebih cenderung untuk memilih tidak berkunjung ke kawah ini, karena memang memakan waktu cukup lama. Berada di area zona 2 kawasan wisata Dieng, membuat Kawah Candradimuka menjadi objek wisata yang sepi pengunjung.

Dari pertigaan Desa Dieng atau tugu "Welcome To Dieng Wonosobo", ambil jalan ke arah Batur. Setelah berjalan sejauh kurang lebih 3 kilometer, Anda akan menjumpai pertigaan, ambil jalan arah kanan yang menuju ke Desa Kepakisan atau Desa Pekasiran. Perjalanan melalui jalan berliku dengan pemandangan ladang-ladang pertanian dan bukit-bukit yang menjulang tinggi.

Setelah menempuh jarak kurang lebih 4 kilometer dari pertigaan tersebut, akan menjumpai gerbang bertuliskan "Kawah Candradimuka" yang berada di sisi kanan jalan. Dari gerbang "Kawah Candradimuka", wisatawan harus melewati jalan menanjak dan berbatu sejauh 1,4 kilometer. Perjalanan yang cukup panjang, melewati dua desa, yaitu Desa Kepakisan dan Pekasiran, membuat objek wisata ini tidak begitu diminati.

Minggu, 18 Oktober 2015

Objek Wisata Bukit Sidengkeng Dieng

Dieng memang tak pernah berhenti menghadirkan kepuasan dan kekaguman bagi setiap wisatawan. Tak jarang orang yang sudah berkunjung ke Dieng ingin kembali merasakan suasana harmonis, romantis, dan dikelilingi pemandangan nan eksotis. Ya, hanya Dieng yang mampu memberikan segalanya bagi setiap orang. Suasana segar di pegunungan merupakan ciri khas Dataran Tinggi Dieng yang banyak diburu wisatawan, terutama dari kota-kota besar.

Salah satu objek wisata yang sangat populer adalah Telaga Warna. Untuk menikmati Si cantik Telaga Warna memang dapat dilakukan dari berbagai penjuru. Bukit Sidengkeng merupakan salah satu spot terbaik untuk menikmati keelokan Telaga Warna dan Telaga Pengilon, dua telaga kembar di kawasan Dieng Plateau. Objek wisata ini merupakan puncak dari beberapa perbukitan yang mengelilingi kawasan Telaga Warna.

Bukit Sidengkeng

Telaga Warna memang termasuk salah satu wanawisata, menyuguhkan pemandangan yang sangat elok, dengan warna-warni airnya, dan dikelilingi oleh perbukitan yang menjulang tinggi. Pesona Telaga Warna yang begitu jelita ini semakin memukau ketika dilihat dari atas Bukit Sidengkeng.

Untuk mencapai Bukit Sidengkeng memang cukup mudah, hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit melalui jalur trekking dari pintu masuk Wanawisata Petak 9 Dieng. Kondisi jalur yang cukup mudah membuat Bukit Sidengkeng menjadi destinasi yang banyak dikunjungi oleh wisatawan.

Bukit Sidengkeng

Pemandangan dari puncak Bukit Sidengkeng memang akan membuat setiap pengunjung terkagum-kagum. Sebuah view yang sangat eksotis, perpaduan antara dua telaga kembar di bagian bawah, dikelilingi oleh perbukitan hijau, serta berlatarbelakang pemandangan Gunung Sindoro dan Gunung Prau yang terlihat begitu perkasa.

Nama Sidengkeng sebenarnya hanya penalaran warga setempat, dimana perjalanan menuju ke puncak bukit tersebut terasa cukup berat, badan kita harus membungkuk-bungkuk (ndengkeng). Oleh karena itulah objek wisata yang menyuguhkan panorama eksotis ini disebut Bukit Sidengkeng.

Minggu, 11 Oktober 2015

Objek Wisata Telaga Pengilon Dieng

Telaga Pengilon merupakan salah satu objek wisata di Dieng Plateau, berada satu kawasan dengan Telaga Warna dan beberapa goa alam, seperti Goa Jaran dan Goa Sumur. Telaga Pengilon memiliki nuansa yang hening, penuh kesunyian, dan berbalut ketenangan, sehingga mampu memberikan kenyamanan bagi para pengunjungnya.

Terletak berdekatan dengan Telaga Warna, membuat dua telaga tersebut tampak seperti telaga kembar jika dilihat dari kejauhan. Kondisi airnya yang sangat jernih mampu menghadirkan perpaduan harmonis dengan air Telaga Warna yang tampak berwarna-warni.

Nama Telaga Pengilon diberikan lantaran air telaga tersebut tampak begitu jernih, bagaikan sebuah cermin raksasa. Dalam bahasa Jawa, kata "Pengilon" berarti "Cermin", lantaran memang kondisi airnya yang mampu memantulkan benda apa saja layaknya sebuah cermin.

Telaga Pengilon Dieng

Foto Telaga Pengilon


Keindahan Telaga Pengilon

Jika Anda ingin melihat dari dekat air Telaga Pengilon, hanya membutuhkan waktu beberapa menit berjalan kaki dari Telaga Warna, karena dua telaga tersebut hanya berjarak sekitar 150 meter. Di tepi Telaga Pengilon, wisatawan bisa menikmati pesona alam dengan bukit-bukit menjulang tinggi di sekelilingnya. Sebuah spot yang sangat bagus untuk para pemburu foto. Ekspresikan karya Anda dengan pengambilan foto-foto seni dari tepi Telaga Pengilon.

Telaga Pengilon Dieng

Foto Telaga Warna dan Telaga Pengilon


Mitos Telaga Pengilon

Konon Telaga Pengilon merupakan salah satu telaga yang dijadikan sebagai tempat mandi bidadari dari kahyangan. Setelah mandi, para bidadari bisa bercermin di Telaga Pengilon untuk melihat sisi baik dan baruk yang ada pada dirinya. Secara filosofis, berkaca di Telaga Pengilon merupakan upaya untuk mawas diri.

Penasaran dengan keindahan dan suasana mistis di Telaga Pengilon? Hubungi Calya Wisata untuk menemani perjalanan Anda ke Dieng.

Kamis, 08 Oktober 2015

Gunung Pakuwaja Dieng Wonosobo

Gunung Pakuwaja Dieng merupakan salah satu destinasi yang wajib dikunjungi oleh petualang sejati. Dari puncak bukit Pakuwaja, Anda bisa menyaksikan sajian pesona alam yang luar biasa. Inilah spot terbaik untuk menikmati landscape kawasan wisata Dieng yang bergunung-gunung. Dua telaga kembar, Telaga Warna dan Telaga Pengilon, tampak begitu anggun terlihat dari ketinggian, diselimuti kabut tipis pada siang hari, sehingga membuat pesona pemandangan indah terasa dihiasi suasana mistis.

Gunung Pakuwaja berada di sebelah Bukit Sikunir, yang namanya sudah melambung lebih dahulu sebagai destinasi wisata. Secara administratif masuk dalam wilayah Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Bagi para penggemar tracking, Pakuwaja tentu memiliki daya tarik tersendiri. Dengan ketinggian mencapai 2.410 meter di atas permukaan laut, Gunung Pakuwaja memiliki pesona yang tak kalah menariknya dengan Bukit Sikunir.

Gunung Pakuwaja Dieng

Pemandangan dari puncak Pakuwaja, Dieng


Salah satu keunikan Gunung Pakuwaja adalah keberadaan batu besar, berbentuk runcing, menjulang tinggi, menyerupai menhir atau paku raksasa, yang menurut kepercayaan masyarakat setempat merupakan pasaknya Pulau Jawa. Oleh karena keberadaan pasak inilah gunung tersebut diberi nama Gunung Pakuwaja.

Batu besar berbentuk paku tersebut diapit oleh bekas telaga yang airnya sudah mengering dan berbentuk seperti wajan atau penggorengan. Warga setempat menyebutnya Telaga Wurung. Menurut mitos yang berkembang di kawasan Dieng, air Telaga Wurung tersebut dialirkan menuju ke Telaga Cebong, yang berada di kaki antara Gunung Pakuwaja dan Sikunir.

Konon, menurut cerita legenda yang beredar di masyarakat Dieng, dikisahkan bahwa pada suatu masa, ketika Pulau Jawa belum berpenghuni dan terus bergejolak, Bathara Guru, dewa tertinggi dalam kisah pewayangan, mengambil sebagian puncak Gunung Himalaya, dan ditancapkan sebagai pasak tepat di tengah-tengah Pulau Jawa. Puncak inilah yang saat ini dikenal sebagai kawasan Dieng Plateau.

Jalur Pendakian Gunung Pakuwaja

Ada tiga jalur yang dapat dilalui untuk mencapai puncak Pakuwaja, yaitu Jalur dari Desa Parikesit, Desa Dieng (melalui jalur di depan Dieng Plateau Theater), dan Desa Sembungan. Dari ketiga jalur tersebut, jalur dari Desa Sembungan merupakan jalur terpendek, hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu setengah jam untuk mencapai puncak.

Karena belum ada tanda-tanda petunjuk jalan, para pendaki bisa bertanya kepada para petani yang banyak dijumpai di sepanjang jalur pendakian. Lebih disarankan menggunakan jasa pemandu yang sudah berpengalaman, terutama jika pendakian dilakukan pada malam hari.

Setengah lebih lereng Pakuwaja adalah lahan kentang, sehingga pendakian harus dilakukan melalui lahan-lahan milik petani. Setelah melewati lahan kentang, rerumputan ilalang setinggi dada siap menyambut perjalanan para pendaki yang tentu sedikit menyulitkan.

Lepas dari perjalanan yang cukup melelahkan dan tiba di Puncak Pakuwaja, wisatawan akan disambut dengan pemandangan yang tak kalah cantiknya dengan puncak-puncak lain di Sikunir. Sebuah sajian pemandangan yang khas, penuh misteri, dan bernuansa mistis.

Di batu raksasa berbentuk paku, terdapat goa yang dijadikan sebagai tempat meletakkan sesaji, berupa dupa, bunga, rokok, dll. Pada hari-hari tertentu, terutama pada malam Jumat Kliwon (dalam penanggalan Jawa) ada masyarakat yang masih melakukan ritual kepercayaan. Sementara di area Telaga Wurung, para pendaki bisa mendirikan tenda untuk menunggu momentum surise yang sangat dinantikan.

Minggu, 04 Oktober 2015

Gardu Pandang Tieng

Dieng memang memiliki berjuta pesona yang sangat menawan. Banyak objek wisata menarik untuk dikunjungi. Menyuguhkan pemandangan alam nan eksotis yang bisa dinikmati dari segala penjuru. Salah satu lokasi yang sering dijadikan sebagai tempat untuk menikmati keindahan panorama Dieng adalah Gardu Pandang Tieng. Tempat ini menjadi lokasi ideal untuk menikmati keindahan sunrise di kawasan wisata Dieng.

Gardu Pandang Tieng

Gardu Pandang Tieng berada di ketinggian 1789 meter di atas permukaan laut, secara administratif masuk dalam wilayah Desa Tieng, Kecamatan Kejajar. Lokasinya sebelum pintu masuk kawasan wisata Dieng, tepat setelah tanjakan 15%, dari arah Wonosobo sebelah kanan jalan. Banyak wisatawan yang menyempatkan transit di Gardu Pandang Tieng untuk menikmati hamparan ladang kentang dari ketinggian sebelum masuk ke kawasan wisata Dieng.

Gardu Pandang Tieng

Tak hanya menikmati keindahan kaki pegunungan Dieng, Gardu Pandang Tieng juga menjadi tempat alternatif untuk berburu sunrise. Salah satu keunggulan objek wisata ini adalah lokasinya yang mudah dijangkau. Berada di tepi Jalan Raya Wonosobo - Dieng, sehingga mudah dijangkau oleh wisatawan. Tak mengherankan jika banyak wisatawan yang tidak sempat berburu sunrise ke Sikunir akan mengunjungi tempat ini saat pagi hari, terutama beberapa jam menjelang matahari terbit.

Gardu Pandang Tieng

Jumat, 25 September 2015

Objek Wisata Batu Pandang Ratapan Angin Dieng

Dieng tak akan pernah berhenti menyuguhkan keindahan-keindahan alam nan eksotis. Selain kawasan Telaga Warna yang penuh dengan nuansa mistis, kompleks percandian yang menyuguhkan warisan budaya adi luhung, Bukit Sikunir dengan pesonan Golden Sunrise yang konon merupakan sunrise terindah di Indonesia, juga terdapat satu objek wisata lagi yang tak kalah menariknya, yakni Batu Pandang Ratapan Angin yang menawarkan view dua telaga kembar dari ketinggian.

Batu Pandang Ratapan Angin merupakan satu objek wisata yang tidak boleh ditinggalkan saat Anda berkunjung ke kawasan wisata Dieng. Pasalnya, objek wisata yang satu ini menawarkan pesona pemandangan alam sangat mengagumkan, sebuah lukisan mahakarya dari Sang Pencipta. Terdapat berbagai spot menarik untuk pengambilan foto-foto seni, maupun selfie, tak mengherankan jika kawasan ini selalu diburu oleh wisatawan untuk mengabadikan kunjungannya ke Dieng Plateau.

Batu Pandang Ratapan Angin berada di dekat Gunung Pakuwaja, Dieng, di sebelah selatan kawasan Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Wisatawan bisa menuju ke objek wisata tersebut melalui pintu masuk yang berada satu lokasi dengan Dieng Plateau Theater. Dari pintu parkir Dieng Plateau Theater ada petunjuk arah untuk menuju Batu Pandang Ratapan Angin.

Batu Pandang Ratapan Angin

Akses Jalan Ke Batu Pandang Ratapan Angin


Jalan setapak yang tersusun atas ratusan anak tangga akan membibing Anda untuk menikmati sajian pesona alam yang sangat mengagumkan. Memang dibutuhkan stamina cukup kuat agar bisa mencapai lokasi. Namun, Anda tidak perlu khawatir, karena jalur yang dilalui sudah ditata sedemikian rupa, sehingga memudahkan para pengunjung. Hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk mencapai lokasi di ketinggian.

Batu Pandang Ratapan Angin

Tracking Ke Batu Pandang Ratapan Angin


Kelelahan Anda akan terbayar begitu mencapai area batu pandang. Sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan terpampang di depan mata. Wisatawan akan menyaksikan sajian pemandangan eksotis dua telaga kembar dari ketinggian. Saatnya berburu spot paling menarik untuk mengabadikan perjalanan liburan Anda.

Batu Pandang Ratapan Angin

Melepas Lelah Saat Perjalanan Ke Batu Pandang Ratapan Angin


Sebuah perjalanan liburan yang sangat memuaskan, tak cukup rasanya waktu 1-2 jam saja untuk menikmati keindahan yang begitu menawan. Tak jarang area di Bukit Sidengkeng ini dijadikan sebagai lokasi pengambilan foto prewedding. Hampir setiap pengunjung merasa terkagum-kagum dengan pesona keindahan panorama alam yang benar-benar memanjakan mata.

Batu Pandang Ratapan Angin

Pesona Pemandangan Batu Pandang Ratapan Angin


Penasaran dengan Batu Pandang Ratapan Angin? Hubungi kami, Calya Wisata - 085200096334, 085600096011, 087705597000, untuk mempersiapkan seluruh akomodasi perjalanan Anda.

Selasa, 22 September 2015

Objek Wisata Kawah Sikidang Dieng

Kawah Sikidang adalah salah satu objek wisata yang berada di kawasan vulkanik Dataran Tinggi Dieng, merupakan kawah yang paling populer dibanding kawah-kawah lain di Dieng karena memiliki akses paling mudah untuk dijangkau. Kawah seluas 200 m2 ini berada di wilayah Desa Dieng Kulon, hanya berjarak kurang lebih 800 meter dari objek wisata Telaga Warna dan 1,5 kilometer dari Kompleks Candi Arjuna.

Berada di area datar, dikelilingi batuan belerang, dan mengepulkan uap panas disertai gejolak air mendidih berwarna kelabu. Kandungan belerang yang sangat tinggi membuat kawah tersebut mengeluarkan bau sangat menyengat, sehingga wisatawan yang berkunjung harus menggunakan masker sebagai penutup hidung. Namun begitu, bau menyengat tersebut tidak menghalangi minat wisatawan untuk berkunjung.

Kawah Sikidang

Kawah Sikidang


Nama Kawah Sikidang sangat populer, karena memang memiliki karakter sangat unik, dimana lubang utama semburan lumpur mendidih selalu berpindah-pindah tempat dalam satu area yang luas. Oleh karena itulah, penduduk setempat memberinya nama Kawah Sikidang, bagaikan seekor kidang (rusa) yang selalu melompat-lompat dari satu tempat ke tempat lain.

Kawah Sikidang menghadirkan nuansa lain di kawasan wisata Dieng. Pemandangan alam nan hijau menyegargan mendadak lenyam dari pandangan mata begitu Anda memasuki area kawah. Sejauh mata memandang tampak hamparan tanah dan batuan belerang yang tampak tandus. Area perbukitan yang terlihat jauh mengelilingi area kawah memberikan kesan bahwa area tersebut menyerupai sebuah kaldera yang sangat besar.

Kawah Sikidang

Lokasi Kawah Sikidang


Perlu diingat, saat Anda mengunjungi lokasi kawah Sikidang, dilarang untuk menyalakan api atau rokok karena sangat berbahaya. Wisatawan juga harus hati-hati saat melangkah, pilihlah area tanah yang kering sebagai pijakan. Di beberapa tempat terlihat tanah mengeluarkan asam dari lubang-lubang kecil. Tanah tersebut sangat berbaya karena sangat rapuh. Hindari berjalan kaki di sekitar tanah yang tampak basah, apalagi mengeluarkan asap.

Bau belerang sangat menyengat, semakin mendekati kawah, bau terasa semakin kuat dan menusuk hidung. Wisatawan bisa membeli masker yang dijajakan oleh warga setempat di lokasi wisata. Tak jauh dari tempat parkir, Anda akan menjumpai kios-kios pedagang yang menjajakan cinderamata, makanan dan minuman, dll.

Rabu, 02 September 2015

Candi Dieng

Candi Dieng merupakan warisan sejarah yang berada di wilayah dataran tinggi Dieng, di ketinggian kurang lebih 2000 meter di atas permukaan laut. Candi-candi di dataran tinggi Dieng merupakan peninggalan Hindu, beraliran Syiwa yang diperkirakan dibangun oleh beberapa generasi, yaitu sekitar abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi. Diduga Candi Dieng merupakan candi tertua di Pulau Jawa, dan hingga saat ini belum ditemukan bukti-bukti tertulis yang mampu mengungkap sejarah keberadaannya. Namun begitu, beberapa penulis dan pakar sejarah menyimpulkan bahwa Candi Dieng menjadi tonggak perkembangan peradaban di Pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya.

Sejarah Candi Dieng

Diperkirakan Candi Dieng dibangun atas perintah raja-raja dari Wangsa Sanjaya, salah satu wangsa terbesar di Pulau Jawa yang mencapai puncak kejayaannya pada jaman Majapahit. Beberapa ahli berpendapat bahwa candi Dieng dibangun melaui dua tahap yaitu tahap pertama berlangsung di akhir abad ke-7 Masehi hingga seperempat abad ke-8 Masehi. Sedangkan tahap kedua berlangsung sekitar abad ke-8 Masehi hingga abad ke-13 Masehi. Berdasarkan dari bentuknya, diperkirakan beberapa candi yang dibangun pada tahap pertama merliputi Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi dan Candi Gatutkaca.

Meskipun prasasti tertua di Indonesia ditemukan di Kuta dan prasasti tertua di Pulau Jawa ditemukan di Bogor, ditepi sungai Ciaruteun, namun peninggalan arsitektural dan monumental (terbuat dari batu) baru dimulai pada abad ke-8 Masehi. Sehingga banyak ahli dan penulis yang meyakini bahwa Candi Dieng merupakan bangunan monumental pertama di Indonesia. Tak mengherankan jika dalam buku berjudul "Mata Air Peradaban", disebutkan bahwa Candi Dieng kemungkinan telah dibangun pada masa Kerajaan Holing atau Kaling. Lebih jauh lagi, dalam buku tersebut diungkapkan bahwa Dieng memiliki peran penting dalam konstelasi sosial politik yang signifikan.

Candi Dieng

Segi Lokasi Candi Dieng

Dari segi lokasi, pembangunan candi-candi di Dieng telah memenuhi ketentuan dan aturan yang telah digariskan dalam kitab-kitab Vastusastra. Ada beberapa kitab Vastusastra, antara lain Manasara, Silpa-prakasa, dan Visnudhamottaram. Terutama jika mengacu pada kitab Manasara, pembangunan Candi Dieng telah memenuhi hampir semua ketentuan dan aturan, diantaranya adalah berada di pegunungan atau puncak bukit, hutan, mata air (Tuk Bima Lukar), dan telaga (Bale kambang). Konon, kriteria tempat seperti itu menjadi kesenangan para dewa. Pembangunan candi di wilayah pegunungan dimaksudkan agar candi-candi tersebut memiliki kedekatan dengan "puncak", yang diinterpretasikan sebagai pusat kosmis sekaligus kahyangan para dewa.

Candi Dieng

Arsitektur Candi Dieng

Diperkirakan sebelum abad ke-8 Masehi, kemungkinan bangunan-bangunan terbuat dari bahan ringan, seperti kayu dan bambu. Bangunan dari bahan ringan tersebut ada di kompleks percandian Dieng, yakni di Situs Darmasala. Diperkirakan bangunan dari bahan kayu atau bambu pernah dibangun di atas bangunan profan yang saat ini sudah hancur, tinggal pondasi dan umpak-umpak saja.

Secara arsitektural, Candi Dieng memperlihatkan tipe ideal budaya peralihan, yakni peralihan dari bangunan berbahan kayu ke bangunan berbahan batu. Selain itu, peralihan juga tampak pada gaya arsitekturnya, yaitu dari arsitektur India ke gaya lokal. Candi-candi yang dibangun pada masa klasik awal secara sepintas tampak seperti bangunan candi di India. Namun, jika dilihat lebih detil akan tampak beberapa perbedaan. Candi-candi klasik awal lebih berkesan tambun dan kekar, serta detail hiasannya berbeda. Arsitektu bangunan seperti itu bisa dilihat pada Candi Semar, Candi Gathotkaca, dan Candi Dwarawati. Ruang utama candi (garbhagrha) terdapat di pusat bangunan atau halaman.

Sedangkan candi-candi pada masa klasik akhir sudah menunjukkan perbedaan yang nyata dengan gaya arsitektur India. Candi pada masa klasik akhir ini lebih berkesan ramping, karena atapnya menjulang tinggi ke atas. Garbhagrha tidak terdapat di pusat bangunan, tetapi agak bergeser ke belakang.

Melihat adanya perbedaan yang cukup nyata pada gaya arsitektur Candi Dieng yang menunjukkan prototipe candi pada masa klasik awal dan klasik akhir, serta adanya bekas-bekas bangunan dari bahan ringan, tentunya candi-candi di wilayah Dieng tidak dibangun oleh satu generasi saja.

Candi Dieng

Penemuan Candi Dieng

Meskipun sudah dibangun ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, namun Candi Dieng baru ditemukan kembali pada tahun 1814. Saat itu, seorang tentara Inggris sedang berwisata ke dataran tinggi Dieng dan melihat beberapa candi yang terendam air telaga. Penemuan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan upaya pengeringan air telaga, dilakukan pada tahun 1856 dan dipimpin oleh Van Kinsbergen. Beberapa tahun kemudian, yakni pada 1864, pemerintah Hindia Belanda melakukan pembersihan di area candi, yang kemudian dilanjutkan pencatatan dan pengambilan gambar oleh Van Kinsbergen.

Candi Dieng

Candi-Candi Di Dieng

Candi-candi di Dieng terbagi dalam tiga kelompok dan satu candi yang berdiri sendiri. Ketiga kelompok tersebut adalah kelompok candi Arjuna, Gathotkaca, dan Dwarawati. Sedangkan satu candi yang berdiri sendiri adalah Candi Bima, yang berada di salah satu bukit. Pemberian nama Candi Dieng berdasarkan tokoh-tokoh pada cerita wayang dari kitab Mahabarata. Berikut beberapa candi yang ada di Dieng.
  • Kelompok Candi Arjuna
    • Candi Arjuna
    • Candi Semar
    • Candi Srikandi
    • Candi Sembadra
    • Candi Puntadewa
  • Kelompok Gatutkaca
    • Candi Gatutkaca
    • Candi Setyaki
    • Candi Nakula
    • Candi Sadewa
    • Candi Petruk
    • Candi Gareng
  • Kelompok Dwarawati
    • Candi Dwarawati
    • Candi Abiyasa
    • Candi Pandu
    • Candi Margasari
  • Candi Bima

Referensi :

http://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-jawa_tengah-candi_dieng

Kamis, 27 Agustus 2015

Objek Wisata Telaga Cebong Sembungan Dieng

Telaga Cebong merupakan salah satu objek wisata Dieng yang tak pernah sepi pengunjung, lantaran objek wisata tersebut tepat berada di sebelah area parkir Sikunir. Telaga alam ini mempunyai bentuk menyerupai cebong, sehingga warga setempat memberinya nama Telaga Cebong. Membludaknya arus wisatawan ke Sikunir mau tidak mau berdampak positif terhadap kegiatan wisata di sekitar Telaga Cebong.

Ya Telaga Cebong bisa dikatakan sebagai telaga yang berada di lokasi tertinggi di kawasan wisata Dieng dengan ketinggian mencapai 2.300 meter di atas permukaan laut. Secara administratif masuk dalam wilayah Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Memang, Desa Sembungan dikenal sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa, memiliki luas wilayah kurang lebih 2,65 km².

Konon Telaga Cebong terbentuk akibat aktivitas vulkanik, merupakan bekas kawah purba. Awalnya telaga ini memiliki luas kurang lebih 18 ha, namun karena terjadi proses abrasi, maka terjadi penyempitan permukaan air telaga, sehingga saat ini luas Telaga Cebong tersisa sekitar 12 Ha.

Telaga Cebong

Pesona Menawan Telaga Cebong


Apa yang menarik di Telaga Cebong?

Selain lokasinya sangat strategis, di jalur utama pendakian bukit Sikunir, sehingga sering dijadikan sebagai tempat beristirahat bagi para wisatawan yang baru turun dari Sikunir. Selain itu, disepanjang tepian telaga juga dijadikan sebagai tempat camping, banyak tenda-tenda yang berjejer di sepanjang bibir telaga. Terlebih lagi jika berkunjung pada saat weekend atau high season, Anda akan melihat ratusan tenda para wisatawan yang akan berburu sunrise di Sikunir.

Banyak aktivitas yang bisa dilakukan wisatawan di sekitar Telaga Cebong. Beberapa diantara mereka membuat api unggun atau hanya sekedar duduk-duduk sembari menahan hawa dingin yang menusuk tulang. Tak jarang wisatawan dari kota-kota besar, seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, dan masih banyak lagi, yang mengadakan acara perjamuan malam di sekitar telaga. Selain membuat api unggun, mereka juga sering mengadakan acara hiburan, seperti tari lengger, tarian tradisional Wonosobo.

Telaga Cebong

Keindahan Telaga Cebong


Jika Anda ingin berkemah di tepi Telaga Cebong, tidak perlu bersusah payah membawa tenda dari rumah, karena warga setempat banyak yang menyediakan jasa sewa tenda, sekaligus menyediakan kayu bakar untuk kegiatan api unggun. Jadi, segala sesuatunya sudah tersedia, wisatawan tinggal menikmati suasana malam yang sangat mengesankan di kawasan wisata Dieng Wonosobo.

Saat pagi hari, lokasi Telaga Cebong sering dijadikan sebagai tempat beristirahat wisatawan setelah menuruni Bukit Sikunir. Banyak diantara mereka yang melepas lelah sembari berjalan-jalan di tepian telaga. Di pagi hari, air telaga tampak memantulkan cahaya sinar matahari sangat eksotis, seolah tampak berkilau seperti minyak, sehingga tak jarang momentum tersebut menjadi buruan para pecinta fotografi. Penasaran dengan Telaga Cebong? Hubungi kami untuk mempersiapkan perjalanan Anda.

Selasa, 25 Agustus 2015

Telaga Menjer Wonosobo

Telaga Menjer Wonosobo merupakan telaga alam terbesar di Kabupaten Wonosobo, secara administratif masuh dalam wilayah Desa Maron, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Hanya berjarak kurang lebih 3 kilometer dari pusat Kecamatan Garung, dan 12 meter dari pusat kota Kabupaten Wonosobo. Diberi nama Telaga Menjer karena memang telaga ini awalnya masuk dalam wilayah Desa Menjer, karena ada pemekaran wilayah, kemudian kawasan Telaga Menjer masuk dalam wilayah Desa Maron.

Telaga Menjer berada di ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut, sehingga memiliki udara sejuk dan menyegarkan. Tergolong telaga alam yang cukup luas, sekitar 70 hektare, dengan kedalaman mencapai 45 meter. Konon, Telaga Menjer terbentuk akibat letusan vulkanik yang terjadi di kaki Gunung Pakuwaja Dieng. Letusan tersebut membentuk sebuah kaldera yang akhirnya terisi oleh air. Memang, dilihat dari letaknya, Telaga Menjer berada tepat di kaki Gunung Pakuwaja.

Pada awalnya, air di Telaga Menjer hanya berasal dari sejumlah mata air alam yang berada di sekitarnya dan air hujan. Curah hujan di daerah tersebut memang sangat tinggi. Namun, ketika Belanda berencana membangun PLTA di daerah Garung, maka suplai air di Telaga Menjer ditambah dari Sungai Serayu. Belanda membangun terowngan kurang lebih sepanjang 7 kilometer dari utara Desa Jengkol hingga ke telaga. Sebagian air Serayu dialirkan ke Telaga Menjer untuk menambah supplai air, sehingga mampu menggerakkan turbin untuk PLTA Garung.

Untuk menyalurkan air dari Telaga Menjer ke PLTA, Belanda membangun saluran pipa berdiameter 3 meter, sepanjang 2 kilometer hingga ke area PLTA Garung. Saat perjalanan menuju Telaga Menjer, Anda akan melihat saluran pipa PLTA ini dari jalan.

Telaga Menjer Wonosobo

Telaga Menjer, Garung Wonosobo


Keindahan Telaga Menjer

Telaga Menjer memiliki keindahan dan daya tarik pesona alam yang sangat mengagumkan. Sisi utara telaga merupakan pegunungan, dengan pepohonan tropis yang hijau dan rimbun. Area kebun teh yang sangat indah menambah pesona di sekitar telaga. Pepohonan pinus yang tertata rapi di sekeliling telaga, dengan daunnya yang tampak berwarna hijau tua, menjadi sebuah pemandangan eksotis yang benar-benar menyejukkan mata. Belum lagi pemandangan perbukitan yang memagari telaga, benar-benar menghadirkan harmoonisasi alam yang luar biasa. Berpadu dengan warna air yang tampak hijau oleh pantulan pepohonan, sungguh merupakan sajian lukisan alam sangat eksotis.

Hembusan angin khas dataran tinggi yang bertiup pelan melalui sela-sela pepohnan, terasa lembut membelai sekujur tubuh. Ya, Telaga Menjer memang menghadirkan kedamaian dan ketentraman hati, sangat jauh dari suasana perkotaan yang bising dan penuh hiruk-pikuk. Tak salah lagi jika Anda menetapkan liburan bersama keluarga ke Telaga Menjer.

Untuk fasilitas wisata, terdapat beberapa unit perahu motor yang siap mengantar setiap pengunjung untuk berkeliling telaga. Menikmati keindahan pemandangan dari tengah-tengah telaga memang satu hal yang benar-benar menakjubkan. Seolah kita berada di sebuah cekungan raksasa, dengan atap langit yang tampak berwarna biru cerah. Tak mengherankan, jika Telaga Menjer sering dijadikan sebagai tempat pengambilan foto-foto prewedding maupun foto seni bertema alam.

Penasaran dengan Telaga Menjer? Hubungi kami untuk mempersiapkan perjalanan Anda.

Senin, 24 Agustus 2015

Gunung Prau Destinasi Favorit Wisata Dieng

Sebenarnya Gunung Prau merupakan perbatasan tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Kendal, dan Kabupaten Batang. Memiliki beberapa jalur pendakian, yaitu alur Pranten Batang, Jalur Patang Banteng Wonosobo, Jalur Dieng Wonosobo, dan Jalur Kenjuran Kendal. Namun, diantara sejumlah jalur pendakian tersebut, Jalur Wonosobo merupakan jalur yang paling banyak diminati wisatawan, sehingga banyak para petualang yang mendaki Gunung Prau dari Wonosobo. Disamping rute jalur relatif lebih mudah, pemandangan alam dari Jalur Wonosobo juga sangat mengagumkan. Tak mengherankan jika pendakian Gunung Prau menjadi salah satu wisata favorit di Dieng Wonosobo.

Puncak Gunung Prau memanjang dari barat ke timur, dengan topografi berupa gundukan-gundukan padang rumput, menyerupai padang rumput pada film teletubbies, sehingga puncak Gunung Prau sering disebut sebagai puncak teletubbies. Keindahan panorama alam dari puncak Gunung Prau tidak diragukan lagi, wisatawan dapat menyaksikan pesona sunrise yang luar biasa. Puncak Gunung Prau juga menjadi puncak tertinggi di dataran tinggi Dieng.

Dengan ketinggian kurang lebih 2.565 meter di atas permukaan laut, atau sekitar 8.415 kaki, membuat Gunung Prau memiliki view yang benar-benar mempesona. Didukung dengan jalur pendakian yang relatif mudah (dari jalur Wonosobo), sehingga banyak wisatawan yang berminat untuk menaklukkannya.

Gunung Prau

Gunung Prau


Gunung Prau

Pemandangan Dari Puncak Gunung Prau


Gunung Prau

Puncak Teletubbies Gunung Prau


Tingginya minat wisatawan untuk mendaki Gunung Prau dapat dilihat bagaimana ramainya posko atau basecamp Gunung Prau di Desa Patak Banteng (sebelum memasuki kawasan wisata Dieng), terutama pada akhir pekan. Bukan hanya dari kota Wonosobo, tetapi para pecinta alam dari seluruh Indonesia dapat Anda temukan. Ya, dengan pesona dan kemegahan alamnya, Gunung Prau menjadi salah satu tempat wisata andalan Kabupaten Wonosobo. Hanya membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan tracking dari jalur Patak Banteng, wisatawan sudah bisa mencapai puncak Gunung Prau.

Minggu, 23 Agustus 2015

Dieng Plateau Theater Informasi Lengkap Tentang Dieng

Dieng Plateau Theater merupakan objek wisata buatan di kawasan wisata Dieng, berupa gedung bioskop yang menampilkan film dokumenter tentang Dieng, baik berbagai peristiwa alam beberapa tahun silam, sejarah, budaya masyarakat setempat hingga potensi yang dimiliki oleh dataran tinggi Dieng. Oleh karena itulah Dieng Plateau Theater sangat cocok bagi para pelajar maupun wisatawan yang ingin mengetahui berbagai misteri yang ada di dataran tinggi Dieng.

Dengan adanya Dieng Plateau Theater, kini tersedia wahana yang bisa memberikan informasi deskriptif mengenai Dieng, sehingga wisatawan yang berkunjung ke Dieng memiliki satu akses yang bisa dipertanggungjawabkan untuk mendapatkan informasi akurat. Selain menyediakan gedung pertunjukan film dokumenter, Dieng Plateau Theater juga dilengkapi dengan area parkir cukup luas, taman untuk bersantai, dan pemandangan alam sangat menakjubkan.

Dari lokasi inilah wisatawan bisa menikmati topografi Dieng yang bergunung-gunung. Beberapa gunung yang tampak dari objek wisata ini antara lain Gunung Perahu, Gunung Gajah Mungkur, Gunung Pangamun-amun, Gunung Pangonan, Gunung Nagasari, Gunung Juranggrawah, dan Gunung Sipandu. Terlepas dari acara pertunjukan film dokumenter, area Dieng Plateau Theater juga menjadi tempat ideal untuk bersantai dan beristirahat para wisatawan.

Dieng Plateau Theater

Akses Masuk Ke Dieng Plateau Theater


Dieng Plateau Theater digagas oleh Gubernur Jawa Tengah, H. Mardiyant, dan diresmikan oleh Presiden Republik Indnesia ke 6, Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2007. Tempat ini dilengkapi dengan sarana audio visual, menampilkan film dokumenter tentang Dieng berdurasi kurang lebih 23 menit, dengan kapasitas pengunjung 100 orang. Bentuk bangunan dirancang dengan arsitektur bergaya klasik dan berundak-undak.

Dieng Plateau Theater

Bentuk Bangunan Dieng Plateau Theater


Dieng Plateau Theater berada di ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut, berlokasi di lereng bukit Sikendil, berjarak kurang lebih 1,5 kilometer dari pertigaan masuk Dieng, dan hanya 150 meter dari lokasi Telaga Warna. Area wisata ini juga difasilitasi dengan pintu masuk ke area Telaga Warna, dan Batu Pandang Ratapan Angin.

Dieng Plateau Theater

Dieng Plateau Theater Tampak Dari Depan


Harga tiket masuk ke Dieng Plateau Theater juga cukup terjangkau, pada tahun 2015 ini hanya Rp 4.000 per orang. Tak lengkap rasanya kunjungan Anda ke kawasan wisata Dieng jika tidak menikmati sajian film dokumenter di Dieng Plateau Theater.

Objek Wisata Tuk Bima Lukar Dieng Wonosobo

Objek Wisata Tuk Bima Lukar berada di kawasan wisata Dieng Plateau, masuk dalam wilayah Kabupaten Wonosobo. Terletak tepat sebelum gapura selamat datang di kawasan wisata Dieng, masuk melalui jalan setapak, hanya beberapa meter dari jalan raya Wonosobo – Dieng. Objek wisata ini diperkirakan merupakan mata air purba, dan menjadi hulu Sungai Serayu, salah satu sungai besar di Pulau Jawa.

Dieng memang sedang menjadi destinasi wisata yang cukup populer, terutama semenjak melambungnya Sikunir sebagai salah satu objek wisata. Terlepas dari nama besar Sikunir yang menjadi ikon wisata baru, Dieng memiliki satu objek wisata yang tak kalah menarik untuk dikunjungi. Tuk Bima Lukar, merupakan objek wisata historis, berupa mata air peninggalan jaman Hindu kuno.

Namun sayang, kebanyakan wisatawan melewatkan Tuk Bima Lukar dalam destinasi wisata ke Dieng. Padahal mata air kuno ini menyimpan segudang misteri pada jaman Hindu. Konon pada jaman dahulu mata air Tuk Bima Lukar dijadikan sebagai tempat untuk bersuci bagi para pemeluk agama Hindu sebelum menuju ke kompleks candi sebagai tempat pemujaan.

Tuk Bima Lukar Dieng

Jejak-jejak peninggalan sejarah ini masih tampak pada dua jaladwara, yaitu pancuran air yang terbuat dari batu Lingga dan tumpahan air berupa Yoni. Perpaduan antara Lingga dan Yoni ini merupakan salah satu ciri khas budaya Hindu. Dengan melihat peninggalan sejarah inilah, Tuk Bima Lukar bisa dikatakan sebagai salah satu mata air peradaban.

Tuk Bima Lukar Dieng

Tak hanya mengadung nilai historis, Tuk Bima Lukar juga menjadi sumber mata air yang disakralkan oleh warga Dieng. Konon, air dari Tuk Bima Lukar ini bisa membuat awet muda bagi setiap orang yang membasuh muka atau mandi di lokasi tersebut.

Dari segi bangunan, Tuk Bima Lukar terdiri dari tiga undakan. Pada undakan paling atas terdapat tempat untuk menaruh sesaji. Undakan kedua merupakan sebuah kolam yang dikeramatkan. Masyarakat tidak boleh mengambil air dari kolam ini. Sedangkan pada undakan paling bawah terdapat dua jaladwara, disinilah tempat untuk mandi, mencuci muka, atau bahkan mensucikan diri untuk mendapatkan berkah.

Jumat, 21 Agustus 2015

Objek Wisata Telaga Warna Dieng - Wonosobo

Telaga Warna Dieng merupakan salah satu objek wisata di kawasan dataran tinggi Dieng. Secara administrasi masuk dalam wilayah Desa Dieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah. Telaga Warna menjadi destinasi wisata yang sangat populer karena memiliki keindahan alam luar biasa. Tak mengherankan jika tempat wisata ini menjadi salah satu objek wisata andalan Kabupaten Wonosobo.

Diberi nama Telaga Warna karena memang terjadi fenomena alam yang cukup unik, dimana air telaga tersebut sering berubah warna, terkadang berwarna hijau, kuning, merah, atau kombinasi warna-warna tersebut, sehingga tampak seperti pelangi. Fenomena alam tersebut dapat terjadi lantaran air telaga mengandung kadar belerang yang sangat tinggi, sehingga saat terkena pantulan sinar matahari akan memantulkan cahaya berwarna-warni.

Selain keunikan airnya, kondisi alam di sekitar Telaga Warna juga cukup menawan. Berpadu dengan kesejukan udara pegunungan yang begitu dingin, hembusan angin di sela-sela pepohonan, sehingga menghadirkan suasana yang begitu harmonis. Belum lagi kicauan burung-burung liar yang bersembunyi di balik pepohonan, sungguh membuat suasana hati semakin damai. Keberadaan bukit-bukit yang menjulang tinggi, seakan mengelilingi area telaga, merupakan pesona lain yang tak kalah menawan saat Anda berada di lokasi Telaga Warna.

Saat pagi hari, pemandangan di area yang berada di ketinggian kurang lebih 2000 meter di atas permukaan laut ini sangat mengagumkan. Sinar matahari pagi yang baru keluar di sisi timur memancarkan sinar yang belum begitu terik, menerobos masuk di sela-sela popohonan, dan menghasilkan pantulan siran di air telaga yang sangat eksotis. Tentu saja waktu yang paling tepat bagi wisatawan untuk berkunjung ke Telaga Warna saat pagi hari. Pada soore hari, kabut akan turun menutup pemandangan di sekitar telaga, sehingga pengunjung tidak dapat menikmati mahakarya lukisan alam. Agar bisa menikmati waktu terbaik dii Telaga Warna, banyak wisatawan yang mengagendakan kunjungan ke objek wisata ini setelah kembali dari Sikunir.

Telaga Warna Dieng

Foto Telaga Warna Dieng


Daya tarik alam inilah yang menjadikan pengunjung begitu terpikat dengan suasana di Telaga Warna. Tak jarang wisatawan berkunjung hingga beberapa kali ke kawasan Telaga Warna. Oleh karena itulah Telaga Warna tetap menjadi ikon wisata Dieng dan Wonosobo. Perpaduan harmonis antara keagungan pesona alam, udara dingin yang begitu menusuk tulang, dan beberapa objek wisata lain di sekitar telaga, benar-benar membuat suasana di Telaga Warna Dieng begitu memikat. Ditambah lagi keberadaan beberapa goa alam, sehingga menghadirkan suasana mistis ditengah-tengah keheningan dataran tinggi Dieng Wonosbo.

Tepat berada di samping Telaga Warna terdapat juga satu telaga lain yang memiliki air sangat jernih, bagaikan cermin raksasa. Masyarakat sekitar menyebutnya sebagai Telaga Pengilon, lantaran begitu jernihnya air telaga sehingga tampak seperti pengilon atau cermin. Keberadaan dua telaga ini memang begitu eksotis, terlebih lagi jika Anda melihat dari Batu Pandang Ratapan Angin, sungguh bagaikan dua telaga kembar di tengah-tengah lembah yang tampak hijau oleh pepohonan di sekitarnya. View dari atas Batu Pandang Ratapan Angin memang sangat mengagumkan, sebagian wisatawan akan menyempatkan diri berkunjung ke batu pandang tersebut untuk menikmati karya Tuhan yang begitu memukau.

Selain dimanfaatkan sebagai tempat wisata, Telaga Warna juga menjadi salah satu sumber air bagi lahan-lahan pertanian di Dieng, dengan komoditas utama tanaman kentang.



Objek Wisata Lain Di Sekitar Telaga Warna Dieng

Beberapa objek wisata lain di sekitar Telaga Warna Dieng adalah:
  • Gua Semar atau dikenal dengan Pertapaan Mandalasari Begawan Sampurna Jati
  • Gua Sumur Eyang Kumalasari
  • Gua Jaran Resi Kendaliseto

Gua-gua tersebut sering dijadikan sebagai tempat meditasi atau bertapa oleh banyak orang yang memiliki keyakinan itu. Bahkan konon kabarnya, Bapak Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia, juga pernah melakukan semedi di salah satu goa tersebut.

Akses jalan menuju objek wisata Telaga Warna Dieng juga sangat mudah, dengan infrastruktur jalan dalam kondisi sangat baik. Dari pusat kota Kabupaten Wonosobo langsung menuju ke arah utara (jalur Wonosobo - Dieng). Biasanya para pengendara membutuhkan waktu sekitar 45 menit hingga 1 jam, dengan jarak tempuh kurang lebih 30 kilometer.

Minggu, 09 Agustus 2015

Objek Wisata Di Dieng Plateau

Dieng Plateau memiliki daya tarik dan keunikan tersendiri. Sebagai kawasan wisata gunung, tentu saja Dieng Plateau memiliki pemandangan alam sangat mempesona. Selain itu, juga didukung dengan peninggalan sejarah yang sangat unik, berupa candi-candi tua yang konon merupakan mata air peradaban di Indonesia. Berikut beberapa objek wisata di Dieng Plateau:

Objek Wisata Dieng

Objek Wisata Dieng


Objek Wisata Dieng

Objek Wisata Dieng


Bagi yang berminat untuk mengunjungi objek wisata di kawasan wisata Dieng, kami siap melayani dan mempersiapkan semua kebutuhan Anda, mulai dari sarana transportasi, tiket masuk lokasi, hingga masalah akomodasi. Calya Wisata, membantu perjalanan liburan Anda, menyediakan paket wisata yang paling fleksibel, dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan waktu liburan Anda. Didukung dengan tim yang solid, bekerja dengan sepenuh hati, kami siap mendampingi Anda untuk mengunjungi Objek Wisata Dieng.

Objek Wisata Dieng

Informasi penting tentang kawasan wisata Dieng

Berikut beberapa informasi penting yang harus diketahui sebelum menentukan objek wisata mana saja yang akan dikunjungi saat berlibur ke Dieng Plateau.

Sikunir Dieng Wonosobo

Sikunir berada di Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, di ketinggian 2.350 mdpl. Masuk dalam kawasan wisata Dieng Plateau. Objek wisata ini tak pernah sepi pengunjung. Terutama pada pagi hari, menjelang matahari terbit, Sikunir selalu dipadati wisatawan dari berbagai daerah. Semenjak dibuka sebagai objek wisata, Sikunir menjadi primadona baru bagi wisatawan yang berkunjung ke Dieng, Wonosobo. Dengan melambungnya Sikunir, industri pariwisata di Dieng kembali bergairah, setelah sempat mengalami kelesuan selama beberapa tahun. Perkembangan industri pariwisata Dieng Wonosobo dapat dilihat dari laju pertumbuhan usaha penginapan Dieng (homestay).

Sikunir dikenal dengan pemandangan matahari terbitnya, yang konon merupakan pemandangan sunrise terindah di Indonesia. Oleh banyak wisatawan, pemandangan matahari terbit di Sikunir dijuluki dengan istilah Golden Sunrise. Menikmati pesona pemandangan alam di kawasan yang dikenal sebagai Negeri Di Atas Awan ini memang merupakan satu perjalanan wisata yang luar biasa. Sebuah pengalaman liburan yang tidak akan pernah didapatkan dari tempat wisata lain.

Perjalanan menapaki bukit Sikunir memang cukup mudah, akses jalan boleh dibilang sangat memadai, dimana kendaraan bisa langsung parkir di sebuah lapangan yang berada tepat di kaki bukit, dekat dengan sebuah danau yang diberi nama Telaga Cebong. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, terutama perlengkapan untuk menghangatkan badan, wisatawan bisa langsung menyusuri jalan setapak, selebar kurang lebih 2 meter untuk menyusuri bukit.

Kondisi jalan bisa dikatakan cukup baik, apalagi pada musim kemarau. Tidak perlu membawa perbekalan yang terlalu banyak, karena perjalanan untuk menaklukkan bukit hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Udara dingin sudah menyelimuti para wisatawan begitu memasuki kawasan wisata Dieng. Menembus dinginnya udara dini hari merupakan tantangan yang harus dilakukan oleh banyak wisatawan. Namun, kondisi seperti itulah yang justru menjadi salah satu daya tarik bagi traveler dari berbagai daerah.

Sikunir Dieng

Pesona Sunrise Sikunir Dieng


Setapak demi setapak Anda akan melihat ratusan wisatwan mulai mendaki ke puncak bukit. Ketinggian jalur tracking bukit Sikunir relatif ringan, sehingga banyak digemari oleh wisatawan, baik mereka yang suka berpetualang maupun tidak. Selain itu, lama perjalanan yang biasanya ditempuh dalam waktu 3 menit juga tidak begitu menghabiskan stamina, sehingga kondisi tubuh kita terasa masih segar, tidak terlalu lelah, untuk menyambut datangnya mentari.

Sikunir Dieng

Amazing Sunrise Sikunir Dieng


Tak mengherankan, dengan daya tarik berupa atraksi alam yang mengagumkan, didukung dengan berbagai kemudahan yang ada, dari sebuah bukit yang tak pernah dikunjungi orang, Sikunir menjelma menjadi destinasi wisata yang sangat populer, begitu ramai pengunjung, terutama pada akhir pekan.

Golden Sunrise Sikunir Dieng

Wisatawan Menantikan Sunrise Di Sikunir Dieng


Dengan potensi pemandangan Sunrise terindah di Pulau Jawa, Sikunir menjadi buruan para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Membanjirnya arus wisatawan ke Sikunir tentu saja turut meningkatkan geliat pariwisata kawasan Dieng Plateau yang sempat mengalami kelesuan.

Puas dengan pesona Golden Sunrise Sikunir, kini saatnya menikmati pagi di tepi Telaga Cebong. Pemandangan sebuah danau kecil yang cukup indah, sedikit meredakan rasa lelah setelah perjalanan menuruni bukit. Wisatawan juga bisa menikmati minuman hangat khas Dieng di sekitar area parkir.

Tak hanya bukit Sikunir, di kawasan Desa Sembungan juga masih menyimpan potensi wisata lain yang masih tersembunyi, yaitu Curug Sikarim, sebuah air terjun yang tepat berada di lembah, sehingga menampilkan pesona alam yang tak kalah eksotis. Namun, hingga artikel ini dibuat, akses jalan menuju ke Curug Sikarim belum diperbaiki, sehingga potensi wisata tersembunyi ini belum dikelola sebagai objek wisata andalan.

Lihat ulasan lain tentang Sikunir di Sikunir Dieng Plateau.