Kamis, 07 April 2016

SEJARAH DIENG

Dieng merupakan kawasan yang menyimpan berjuta daya tarik dan menawarkan pesona alam yang menakjubkan. Memang, tak hanya keelokan panoramanya yang menjadi eksklusifitas Dieng, namun runtutan peristiwa historis dengan peninggalan-peninggalan purbakala yang ditemukan di Dieng juga menjadi daya tarik yang tak pernah ada habisnya untuk diperbincangkan.

Tatkala menyibak berbagai hal tentang Dieng, kita akan melintasi lorong waktu yang begitu panjang, melihat pada untaian peristiwa yang sangat rumit, dan dihadapkan pada bentangan lembar sejarah yang tak berujung, dimana di dalamnya terjadi berbagai fenomena alam, dinamika politik, sosial, ekonomi, dan budaya yang sangat melelahkan. Sebuah perjalanan historis yang pada akhirnya membentuk mentalitas, baik bagi penghuninya maupun masyarakat pada umumnya.

Ya, dari sinilah kita akan melihat bagaimana mata air peradaban mulai mengalir dan berubah menjadi arus kemajuan jaman dewasa ini. Meskipun belum lengkap bukti-bukti tertulis dan peninggalan historis lain yang mampu menyingkap misteri tentang Dieng, setidaknya kita dapat memperkirakan dan berimajinasi jauh ke masa lampau, bahwa Dataran Tinggi Dieng merupakan satu kawasan yang memegang peran penting dalam perkembangan sejarah Indonesia.

SEJARAH DIENG

Para ahli sejarah dan arkeolog banyak yang berpendapat bahwa Dataran Tinggi Dieng telah dijelajahi oleh manusia semenjak 2000 tahun lalu atau bahkan lebih. Dimungkinkan bertepatan dengan migrasi besar-besaran orang-orang Keling (India) ke tanah Jawa.

Peristiwa tersebut disimbolkan dalam sebuah mitos yang mengisahkan pemindahan kahyangan para Dewa dari Gunung Meru di Jambudwipa (Himalaya) ke Dieng. Inilah awal mula nama Dieng muncul, dalam sebuah cerita mistis yang menggambarkan Batara Guru, dikenal juga dengan sebutan Sang Hyang Jagadnata, yang diidentifikasi sebagai seorang brahmana atau penguasa di daerah Jambudwipa, memindahkan kahyangan para Dewa ke Dieng. Dan sejak saat itu, sebagaimana ungkapan Dennys Lombard dalam karyanya yang berjudul NUSA JAWA, Dieng ditetapkan sebagai Pingkalingganing Buwana.

Ya, nama Dieng memang berasal dari dua kata dalam bahasa Sanskerta, yaitu Ardhi yang berarti Gunung, dan Hyang yang berarti Dewa. Tak mengherankan jika Dieng dikenal juga dengan sebutan Negeri Para Dewa.

Terlepas dari kebenaran mitos tersebut, Dieng tetap menjadi satu kawasan eksklusif. Jika kita melihat peta pulau Jawa, dan menarik garis diagonal dari ujung barat di sisi utara hingga ujung timur di sisi selatan Pulau Jawa, maka kita akan melihat bahwa Dataran Tinggi Dieng tepat berada di tengah-tengahnya. Bisa dibayangkan, kecermatan perhitungan yang luar biasa, tanpa teknologi secanggih saat ini, ribuan tahun silam sudah mampu menentukan sebuah titik lokasi yang strategis untuk menyebarkan peradaban.

Tentu saja hal ini semakin mempertegas betapa hebatnya kemampuan leluhur kita dalam memilih Dieng sebagai Pingkalingganing Buwana sekaligus Kahyangan Para Dewa. Artinya, Dataran Tinggi Dieng menjadi gunung yang disucikan atau ditasbihkan kesuciannya oleh para Dewa sejak ribuan tahun silam. Inilah salah satu alasan, mengapa pada masa-masa mendatang Dieng akan menjadi kawasan yang selalu diburu oleh banyak orang.

Migrasi besar-besaran bangsa Keling, diperkirakan dilakukan dengan perencanaan yang matang selama bertahun-tahun, disebabkan karena beberapa hal, seperti serbuan para pengembara Hun dari padang rumput Eurasia serta desakan dan pengaruh Helenisasi dari Yunani, pada masa pengelanaan Alexander The Great.

Informasi lain, seperti Kitab Paramayoga karya Pujangga R. Ng. Ranggawarsita, mengisahkan bahwa kepindahan Sang Hyang Jagadnata (Syiwa) ke Tanah Jawa berkaitan dengan konsep kenabian Isa.

Salah satu keturunan Sang Hyang Jagadnata adalah Ajisaka, seorang tokoh yang memperkenalkan Aksara Jawa dan tertib sosial kepada pribumi. Dalam Serat Niti Sastra Kawi, Serat Paramayoga, dan Serat Pustaka Raja Purwa, dimana ketiga serat tersebut disesuaikan dengan Serat Juz Al Gubet dan Serat Miladuniren yang beredar di Turki, terdapat informasi yang menyebutkan bahwa pertama-tama Ajisaka datang ke Tanah Jawa, ia bertapa terlebih dahulu di Pegunungan Dieng yang telah ditasbihkan kesuciannya oleh Sang Hyang Jagadnata sebagai Pingkalingganing Buwana.

Kompleks candi-candi di Dieng dibangun pada abad ke 7-8 Masehi, pada masa pemerintahan Kerajaan Kalingga, dengan Ratu yang sangat fenomenal dalam sejarah kita, yakni Ratu Sima. Harus diakui bahwa kompleks percandian Dieng merupakan bukti kebesaran Wangsa Jawa pada waktu itu, yang kemudian disusul munculnya Dinasti Sanjaya dan Syailendra yang berkuasa di Jawa beberapa abad kemudian.

Rabu, 06 April 2016

INFORMASI LENGKAP DIENG CULTURE FESTIVAL (DCF) 2016

Dieng Culture Festival 2016 yang kemudian lebih populer dengan sebutan DCF 2016 diselenggarakan pada tanggal 5-7 Agustus 2016. Dalam event tersebut, pengunjung akan dihibur berbagai acara pertunjukan. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Dieng Culture Festival 2016 ini dikemas dalam konsep yang agak berbeda, terutama dalam pemilihan kegiatan pendukung, seperti Scooter Fun Tracking dan Maiyahan yang akan menampilkan Cak Nun dan Kyai Kanjeng. Lihat Dieng Culture Festival untuk melihat gambaran umum tentang event tersebut.

Pada event Dieng Culture Festival kali ini, pengunjung benar-benar akan diajak terlibat dalam berbagai kegiatan, sekaligus menemukan berbagai hal baru dari rangkaian event ini. Ragam acara tersebut akan dibuka pada tanggal 5 Agustus 2016, oleh Gubernur Jawa Tengah, Bp. Ganjar Pranowo, di panggung utama yang berlokasi di sebelah timur Kompleks Candi Arjuna.

Setelah acara pembukaan, dilanjutkan pertunjukan musik Kyai Kanjeng bersama MH Ainun Najib, atau dikenal Cak Nun (meskipun masih dalam proses konfirmasi). Pertunjukan pembukaan ini akan berakhir pada pukul 17.00 WIB.

Bagi pengunjung yang ingin menikmati pesona sunset di Dataran Tinggi Dieng, bisa menuju ke Batu Pandang Ratapan Angin, salah satu ikon baru di kawasan wisata Dieng. Di tempat inilah wisatawan bisa menikmati keindahan dua telaga kembar (Telaga Warna dan Telaga Pengilon) dari ketinggian, sembari menunggu momen yang tak kalah eksotisnya, saat Raja Siang secara perlahan ditelan perut bumi. Semburat warna kuning keemasan akan tampak menghiasi langit di bentangan garis cakrawala kawasan Dieng Pateau.

Setelah menikmati Sunset Dieng dari Batu Pandang Ratapan Angin, pengunjung bersiap untuk menyaksikan pertunjukan spektakuler Jazzatasawan, yang akan digelar di panggung utama. Pertunjukan tersebut akan dimulai pada pukul 20.00 dengan menampilkan sejumlah musisi jazz papan atas dari seluruh tanah air. Sensasi yang luar biasa, bisa menikmati musik jazz dengan berselimut udara dingin, berkisar antara 2-5 derajat Celcius. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan.

Pagi harinya, wisatawan bisa menikmati pesona sunrise dari berbagai bukit atau gunung-gunung kecil di kawasan Dieng. Beberapa lokasi yang bisa dipilih antara lain SIKUNIR dengan pesona Golden Sunrisenya, Bukit Pakuwaja, Gunung Prau, atau Bukit Pangonan. Sangat disarankan untuk berangkat lebih awal dari penginapan, agar tidak terjebak macet, yakni antara pukul 02.00-03.00 WIB.

Setelah puas dengan pesona Sunrise di Dieng, pengunjung bisa kembali ke penginapan, atau jalan-jalan di sekitar kampung (start dan finish di Pendopo Soeharto-Withlam), sembari menunggu penerbangan ribuan balon dan minum purwaceng bersama-sama. Panitia telah menyediakan doorprize untuk peserta jalan santai.

Menikmati wisata alam di berbagai objek wisata Dieng memang sangat menyenangkan, seperti Telaga Warna, Kawah Sikidang, Bukit Sidengkeng, dll. Terlebih lagi pengunjung akan dihibur pertunjukan seni tradisional yang akan dipentaskan di beberapa lokasi. Ya, tanggal 6 Agustus 2016 panitia Dieng Culture Festival 2016 telah mempersiapkan sejumlah pertunjukan seni tradisional yang akan dipentaskan sepanjang hari.

Dieng Culture Festival (DCF)

Malam harinya pada pukul 20.00 wisatawan bisa menikmati pertunjukan musik akustik dan stand up comedy. Nikmati suasana malam yang paling romantis, sembari mengocok perut Anda dengan guyonan para penampil Stand Up Comedy. Pertunjukan ini sengaja di gelar untuk mengawali malam yang paling indah, dengan penerbangan seribu lampion secara bersama-sama. Pengunjung tidak diperbolehkan untuk menerbangkan lampion sebelum ada aba-aba dari pembawa acara. Pada saat bersamaan, sejumlah musisi ternama akan melantunkan lagu untuk membuat suasana semakin meriah.

Selain lampion, pengunjung juga akan menyaksikan pesta kembang api, yang akan dinyalakan setelah penerbangan lampion selesai. Luar biasa, panitia Dieng Culture Festival telah mempersiapkan kurang lebih 15 ribu letusan kembang api untuk menghiasi langit Dataran Tinggi Dieng pada acara tersebut. Seluruh rangkaian acara ini rencananya akan selesai pada pukul 23.00 WIB.

Tanggal 7 Agustus 2016 merupakan puncak acara Dieng Culture Festival. Inilah saat yang paling dinanti-nantikan puluhan ribu wisatawan dari berbagai penjuru tanah air, yakni Ruwatan Rambut Gembel atau ritual cukur gembel. Ya, kawasan Dataran Tinggi Dieng memang dikenal memiliki keunikan tersendiri, yaitu anak-anak berambut gimbal.

Acara Ritual Cukur Gembel akan dimulai pada pukul 06.00 dengan Kirab Budaya dari rumah pemangku adat, Mbah Naryono. Khusus untuk acara Kirab Budaya, panitia Dieng Culture Festival membuka kesempatan bagi pengunjung untuk terlibat dengan pakaian adat masing-masing. Namun peserta hanya dibatasi sebanyak 80 orang. Oleh karena itu, bagi yang berminat terlibat dalam Kirab Budaya, diminta untuk mendaftar ke panitia lebih awal.

Acara dilanjutkan dengan jamasan rambut gembel di kompleks Darmasala sebelum acara pemotongan rambut di Komples Candi Arjuna. Sejumlah anak berambut gimbal akan dipotong rambutnya oleh tokoh yang telah ditunjuk. Acara ritual pemotongan rambut ini akan dipimpin oleh Mbah Naryono selaku pemangku adat. Rangkaian kegiatan ruwata rambut gembel ini akan diakhiri dengan pelarungan rambut di Telaga Warna.

Bersamaan dengan dilaksanakannya Ritual Cukur Gembel, dipanggung budaya digelar pementasan wayang kulit yang secara khusus ditujukan untuk ritual, dan berbagai pertunjukan seni tradisi.

Susunan Acara Dieng Culture Festival 2016


5 Agustus 2016
  • 14.00 WIB
    Pembukaan, oleh Gubernur Jawa Tengah
  • 15.00
    Maiyahan, Kyai Kanjeng
  • 20.00
    JAZZATASAWAN

6 Agustus 2016
  • 02.00
    Berburu Sunrise Dieng Plateau
  • 07.00
    Jalan santai dan pembagian doorprize, dilanjutkan penerbangan balon
  • 09.00
    Purwaceng Party
  • 10.00
    Parade Seni Budaya
  • 19.30
    Fireworks & Skylanterns

7 Agustus 2016
  • 06.00
    Kirab Budaya (Iring-iringan pengantar anak bajang
  • 09.00
    Jamasan di kompleks Darmasala
  • 10.00
    Ruwatan Cukur Gembel
  • 13.30
    Larungan di Telaga Warna

Dapatkan paket spesial OPEN TRIP DIENG CULTURE FESTIVAL 2016.

Selasa, 05 April 2016

Dieng Culture Festival (DCF)

Dieng Culture Festival atau lebih dikenal dengan sebutan DCF, merupakan moment tahunan yang dinanti-nantikan oleh wisatawan di seantero negeri. Acara yang digelar setiap tahun ini pada intinya bertujuan untuk mempromosikan Dataran Tinggi Dieng sebagai destinasi wisata, melalui rangkaian berbagai macam kegiatan, seperti do’a bersama, pertunjukan musik berkelas nasional, pagelaran seni tradisional, ruwatan cukur gembel, dan diselingi acara-acara pendukung lain.

Melalui event yang dikemas sangat spektakuler ini, diharapkan industri pariwisata Dieng bisa mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Di sinilah wisatawan bisa melihat langsung perpaduan yang luar biasa dari potensi keindahan alam yang begitu eksotis, peninggaan historis yang agung, adat-istiadat, seni dan budaya masyarakat Dieng. Event Dieng Culture Festival, bukan sekedar ajang promosi sektor pariwisata saja, akan tetapi juga untuk menumbuhkan kepedulian bagi masyarakat umum akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan kearifan lokal.

Dieng Culture Festival (DCF)

Rangkaian kegiatan Dieng Culture Festival

Dari tahun ke tahun event Dieng Culture Festival selalu menghadirkan rangkaian kegiatan yang bervariasi, sehingga wisatawan tidak jenuh dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat monotone. Inilah salah satu daya tarik bagi wisatawan di berbagai penjuru untuk berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng. Setiap acara memang sengaja dikemas sangat luar biasa, sehingga bisa menghadirkan pertunjukan yang spektakuler bagi setiap orang. Berikut beberapa acara inti yang biasa digelar dalam event Dieng Culture Festival (DCF) setiap tahunnya.

  • Do’a bersama
  • Pertunjukan musik Jazz (Jazz Di Atas Awan)
  • Pesta Lampion
  • Pagelaran seni tradisional
  • Ritual Cukur Rambut Gimbal

Setiap acara yang digelar mendapatkan respon yang luar biasa dari para pengunjung. Hal ini bisa dilihat dari antusiasme wisatawan yang sudah memesan tiket jauh-jauh hari sebelumnya. Selain itu, Anda akan menyaksikan bagaimana berjubalnya wisatawan di Dataran Tinggi Dieng saat acara tersebut diselenggarakan.

Lihat selengkapnya rangkaian acara Dieng Culture Festival 2016. Atau Dapatkan paket spesial OPEN TRIP DIENG CULTURE FESTIVAL 2016.

Senin, 04 April 2016

Rambut Gimbal Anak-anak Dieng

Saat berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng sering kali kita menjumpai beberapa anak berambut gimbal, orang Dieng menyebutnya dengan istilah "Rambut Gembel". Fenomena rambut gimbal di Dataran Tinggi Dieng memang menjadi hal menarik untuk diperbincangkan, pasalnya "Rambut Gembel" pada anak-anak Dieng menyimpan misteri dan mitos yang diyakini oleh masyarakat setempat.

Belum ada penelitian ilimiah terhadap rambut gembel anak-anak Dieng, namun justru hal itulah yang menjadi daya tarik bagi banyak wisatawan, dengan tetap terpeliharanya kearifan dan tradisi lokal, Ruwatan Cukur Gembel, yaitu tradisi yang berlaku turun temurun di kawasan Dieng untuk mencukur rambut anak-anak gembel, sehingga Si anak akan terbebas dari segala kesialan atau kutukan.

Anak-anak berambut gimbal di Dataran Tinggi Dieng tidak disebabkan karena faktor pemeliharaan rambut, misalnya malas keramas, atau tidak pernah menyisir rambut. Gembel pada anak-anak di Dieng juga berbeda dengan mode rambut gimbal yang sengaja dibuat. Konon, setiap orang yang memiliki garis keturunan Dieng berpotensi memiliki rambut gembel.

Ada beberapa tipe rambut gembel, yaitu gembel pari, yaitu gembel yang berukuran paling kecil seperti padi; gembel jagung, yaitu gembel seperti rambut jagung; gembel jatah, yaitu gembel yang hanya beberapa helai; dan gembel wedhus, yaitu gembel yang berukuran paling besar seperti domba. Tipe gembel wedhus paling banyak dijumpai diantara anak-anak berambut gimbal di Dataran Tinggi Dieng.

Rambut Gimbal

Rambut gimbal tersebut tidak terjadi semenjak lahir, pada umumnya akan muncul saat anak berumur satu hingga tiga tahun. Diawali dengan kondisi kesehatan anak yang mudah sakit-sakitan dengan suhu badan sangat tinggi, bahkan beberapa diantaranya sempat dirawat di rumah sakit. Suhu badan akan berangsur turun dan kesehatan berangsur pulih seiring dengan tumbuhnya rambut gimbal. Setelah rambut gimbal tumbuh panjang, kondisi kesehatan anak akan pulih seperti sedia kala, bahkan beberapa diantaranya memiliki ketahanan tubuh yang jauh melebihi anak-anak normal.

Anak-anak gembel di kawasan Dieng ini memiliki karakter dan kepribadian spesifik, misalnya lebih sensitif, lebih agresif, dan cenderung menjadi pemimpin diantara teman-teman sepermainannya. Terhadap anak-anak berambut gimbal ini, masyarakat Dieng meyakini bahwa mereka merupakan titipan dari Ratu Kidul, serta titisan dari Eyang Kaladete bagi anak gembel laki-laki dan Nini Ronce Kala Prenya bagi anak gembel perempuan.

Konon, Kyai Kaladete dan istrinya, Nini Ronce Kala Prenye, mendapatkan wangsit dari Ratu Kidul, bahwa mereka berdua ditugaskan untuk membawa masyarakat Dieng menuju kesejahteraan. Indikasi bahwa masyarakat Dieng sudah memperleh kesejahteraan adalah munculnya anak-anak berambut gimbal. Oleh karena itulah, warga Dieng meyakini bahwa jumlah anak-anak gembel berkorelasi dengan tingkat kesejahteraan masyarakat Dieng. Semakin banyak anak-anak berambut gimbal, maka tingkat kesejahteraan masyarakat Dieng semakin tinggi.

Setidaknya mitos seperti itulah yang sampai saat ini masih berkembang dan diyakini oleh masyarakat Dieng. Tak mengherankan jika semua keinginan anak-anak berambut gimbal merupakan keinginan sakral yang harus dipenuhi, baik oleh orang tuanya maupun masyarakat. Keinginan yang sangat kuat dari anak-anak berambut gimbal ini akan diwujudkan bersamaan dengan upacara pemotongan rambut gimbalnya, atau warga setempat menyebutnya Ruwatan Cukur Gembel.

Jika pemotongan rambut gimbal tidak dilakukan melalui upacara atau ruwatan, maka rambut gimbalnya akan tumbuh lagi, dan kondisi kesehatan anak akan lebih buruk, mudah sakit-sakitan. Selain itu, orang tua Si anak juga akan mendapatkan kesialan terus menerus. Oleh karena itulah, tradisi Ruwatan Cukur Gembel masih terus dilakukan hingga saat ini.

Upacara pemotongan rambut gembel biasanya dilakukan di kompleks Candi Arjuna, Telaga Warna, atau tepi Telaga Cebong di basecamp Sikunir. Acara ruwatan rambut gembel ini disertai dengan beberapa sesaji. Setelah proses pemotongan, rambut Si anak gembel akan dilarung di Telaga Warna, yang berhulu di pantai selatan. Pelarungan rambut gembel ini merupakan simbol dari pengembalian bala atau kesialan kepada Ratu Kidul atau Dewa.

Jumat, 27 November 2015

Pesona Tersembunyi Di Kawasan Wisata Dieng

Datarang Tinggi Dieng memang dikenal sebagai kawasan yang memiliki berjuta pesona dan daya tarik bagi wisatawan. Perpaduan keindahan alam yang begitu eksotis, warisan budaya adiluhung, dan peninggalan sejarah yang sangat berharga bagi perkembangan peradaban di tanah air.

Ya, kawasan wisata Dieng telah diakui oleh banyak wisatawan sebagai daerah yang memiliki keindahan alam luar biasa. Berbagai spot menarik bisa dijadikan pilihan untuk memanjakan mata dengan keagungan lukisan Illahi.

Salah satu spot yang layak untuk dijelajahi adalah Batu Pandang Ratapan Angin, yaitu sebuah bukit di sebelah selatan Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Objek wisata ini benar-benar menyuguhkan pemandangan langka, benar-benar mampu memikat hati setiap orang yang memandangnya.

Kawasan Wisata Dieng

Hampir setiap wisatawan yang mengunjungi bukit di dekat area Dieng Plateau Theater ini berdecak kagum begitu melihat keindahan alam yang terbentang di depan mata. Bisa dikatakan Batu Pandang Ratapan Angin merupakan mutiara tersembunyi di kawasan wisata Dieng Plateau.

Untuk menuju ke lokasi wisata ini, bisa melalui jalur dari Dieng Plateau Theater. Di pintu masuk area parkir DPT, terdapat petunjuk jalan menuju ke Batu Pandang Ratapan Angin. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit berjalan santai untuk mencapai lokasi.

Kawasan Wisata Dieng

Menyusuri jalan setapak dengan tebing-tebing batu di sekelilingnya, merupakan satu perjalanan yang luar biasa. Mengambil foto-foto berlatarbelakang tebing-tebing batu sangat besar merupakan keasyikan tersendiri. Jalur menuju ke objek wisata tersembunyi di kawasan wisata Dieng ini memang memiliki keindahan panorama yang sangat memukau.

Memang perjalanan harus ditempuh dengan sedikit tambahan energi, karena medan yang agak menanjak. Namun Anda tak perlu khawatir, semua kelelahan akan terbayar begitu tiba di puncak bukit.

Tiba di puncak bukit, pengunjung akan disuguhi pemandangan yang benar-benar mengagumkan. Pesona Telaga Warna dan Telaga Pengilon, tampak seperti dua telaga kembar yang sangat elok. Dua telaga yang berada di sebuah lembah, dikelilingi oleh perbukitan nan hijau, tampak benar-benar memanjakan mata memandang. Dijamin setiap wisatawan akan mengekspresikan kekagumannya terhadap mahakarya Tuhan yang luar biasa ini.

Puas dengan pemandangan dua telaga dari berbagai spot, kini alihkan sesaat pandangan Anda ke sisi barat. Ya, Gunung Pakuwaja tampak begitu kokoh turut menghiasi panorama di sekitar Batu Pandang Ratapan Angin.

Ambil dokumentasi perjalanan Anda dari berbagai spot, pengalaman liburan yang benar-benar langka dengan pemandangan spektakuler yang menghampar di depan mata. Dari sinilah Anda bisa menyaksikan keagungan Negeri Di Atas Awan, dan menyaksikan aura Kawasan Wisata Dieng yang bergunung-gunung, layak jika disebut sebagai Negeri Para Dewa.

Jumat, 20 November 2015

Amazing, Golden Sunrise Sikunir

Golden Sunrise Sikunir bagitu menggema dalam dunia pariwisata Indonesia. Pemandangan matahari terbit yang diklaim sebagai sunrise terbaik di Indonesia ini memang sangat fenomenal. Ya, didukung dengan berbagai potensi wisata alam di kawasan Dataran Tinggi Dieng, nama Sikunir kini begitu populer, dan menjadi salah satu destinasi wisata andalan di Indonesia.

Menyaksikan keindahan lukisan Ilahi dari Bukit Sikunir memang tidak akan pernah bosan. Setiap kali datang, pengunjung akan disuguhi pemandangan dengan suasana alam yang berbeda-beda. Musim hujan, kemarau, bahkan ketika musim kabutpun Sikunir masih menyajikan pesona alam yang begitu eksotis.

Sikunir
Berburu Sunrise Di Bukit Sikunir

Dengan fenomena alam yang berbeda-beda itulah Sikunir menjadi primadona bagi banyak wisatawan. Tak mengherankan jika banyak pengunjung yang sudah datang berulang kali ke Bukit Sikunir tetapi masih penasaran dengan berbagai keajaiban di sana.

Sikunir
Berburu Sunrise Di Bukit Sikunir

Saat cuaca terang dan cerah, Anda akan melihat pesona Golden Sunrise yang luar biasa. Warna merah berawal dari sebuah titik di ufuk timur, semakin lama tampak membesar dengan bentuk bulat, merupakan atraksi alam yang dinanti-nantikan. Dengan latar belakang Gunung Sindoro, Merbabu, dan Sumbing di sisi timur, membuat panorama semakin bertambah elok.

Sikunir
Golden Sunrise Sikunir

Terlebih lagi jika Anda datang saat kabut berada tepat di bawah bukit, tentu decak kagum akan keluar dari setiap pengunjung yang datang menyaksikan kebesaran lukisan Tuhan. Tak jarang bersamaan dengan munculnya sang mentari di ufuk timur, para pengunjung berteriak histeris mengekspresikan kekaguman atas fenomena alam ini.

Tak hanya menyuguhkan pesona pemandangan memukau di saat cuaca cerah, pada musim hujan dan berkabut pun Sikunir masih mempertontonkan keindahannya. Dalam suasana yang berbalut mistis, berlatarbelakang alam yang bergunung-gunung, tentu menjadikan daya tarik tersendiri.

Begitu banyak untaian kata untuk menggambarkan keindahan alam di Bukit Sikunir. Sebuah kalimat yang paling tepat untuk mengekspresikan keindahan itu adalah, "Amazing Golden Sunrise Sikunir".

Rabu, 18 November 2015

Berburu Sunrise Di Sikunir Dieng

Nama Sikunir memang sedang melambung dalam dunia pariwisata Indonesia, menjadi trending topik di berbagai kalangan dengan pesona Golden Sunrisenya. Hadirnya Sikunir sebagai destinasi wisata baru memberikan pengaruh sangat besar terhadap perkembangan pariwisata Dieng.

Dataran Tinggi Dieng memang menyimpan pesona keindahan alam yang masih tersembunyi. Beberapa tahun lalu industri pariwisata Dieng mengalami kelesuan dengan kemerosotan kunjungan wisatawan yang cukup tinggi. Semenjak munculnya Bukit Sikunir yang menawarkan keindahan matahari terbit, berbagai potensi tersembunyi di Kawasan Wisata Dieng mulai terkuak.

Bukit Sidengkeng dan Batu Pandang Ratapan Angin merupakan dua tempat wisata baru yang saat ini sedang naik daun. Kedua tempat tersebut merupakan spot terbaik untuk menikmati pesona keindahan Telaga Warna dan Telaga Pengilon.


Sunrise Sikunir
Berburu Sunrise Di Bukit Sikunir

Terlepas dari berbagai keindahan tersembunyi di Dataran Tinggi Dieng, Bukit Sikunir merupakan fenomena untuk dikunjungi Tak pelak lagi banyak wisatawan dari berbagai daerah, bahkan wisatawan mancanegara yang merasa penasaran dengan Golden Sunrise yang menggema di Bukit Sikunir.

Sunrise Sikunir
Berburu Sunrise Di Bukit Sikunir

Banyak keunggulan yang dimiliki Sikunir, selain pemandangan eksotis Golden Sunrisenya, juga akses yang cukup mudah dan jalur tracking yang tidak terlalu sulit untuk ditaklukkan, sehingga terjangkau oleh wisatawan dari berbagai kalangan.

Sunrise Sikunir
Golden Sunrise Sikunir

Ya, akses menuju Bukit Sikunir memang cukup mudah, hanya beberapa menit dari kawasan wisata Dieng menuju ke basecamp. Lokasi basecamp dan area parkir yang berada tepat di kaki bukit, kurang lebih di ketinggian 2.200 mdpl, semakin memudahkan wisatawan yang ingin berburu pemandangan Golden Sunrise terindah di Indonesia.

Untuk menjangkau ke puncak Sikunir, pengunjung hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit melalui jalur tracking yang mudah dilalui, Tidak terlalu berat untuk tiba di puncak Sikunir, meskipun harus melalui pendakian yang sedikit menguras tenaga, namun jalur yang dilalui tela dipersiapkan sedemikian rupa.

Tak khayal lagi, dengan keunggulan akses jalur yang harus dilalui, Bukit Sikunir menjadi primadona baru sebagai tempat wisata alam menarik. Penasaran dengan keindahan sunrise di Puncak Sikunir, hubungi kami untuk mempersiapkan segala kebutuhan dan akomodasi Anda

Kamis, 12 November 2015

Objek Wisata Kawah Sileri Dieng

Kawah Sileri merupakan salah satu objek wisata di Dieng Plateau, memiliki bentuk unik berupa kepundan datar, sehingga permukaan air kawah yang selalu mendidih terus mengalir ke permukaan yang lebih rendah. Dengan permukaan air mencapai 4 hektare, kawah Sileri menjadi kawah terluas di wilayah Dataran Tinggi Dieng.

Kawah Sileri masuk dalam wilayah Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, berada di lereng Gunung Gagergedang dan tergolong kawah paling aktif. Memang, aktivitas kawah ini cukup tinggi, sempat beberapa kali meletus, sehingga menjadi kawah yang paling berbahaya di Dieng.

Meskipun dikategorikan sebagai kawah berbahaya, namun Sileri tetap menjadi destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Banyak wisatawan yang sengaja berkunjung ke kawah Sileri untuk menyaksikan keindahan panorama alam di sekelilingnya. Permukaan air yang menunjukkan gejala-gejala aktivitas vulkanis dan terus menerus mengeluarkan asap putih juga menjadi daya tarik tersendiri.

Kawah Sileri Dieng

Luasnya area permukaan kawah membuat suasana di sekitar kawah terasa lebih hangat dibanding suasana Dieng Plateau pada umumnya. Luapan permukaan air kawah terus mengalir melalui saluran kecil dan dimanfaatkan untuk menyirami lahan-lahan pertanian di sekitarnya.

Berwisata ke kawah Sileri memang menjadi aktivitas yang penuh pengalaman menakjubkan, karena kita dapat menyaksikan langsung aktivitas vulkanik. Gejolak air mendidih disertai keluarnya uap panas bisa menggambarkan bagaimana gemuruh aktivitas di perut bumi. Pemandangan alami di sekitar lereng Gunung Pagerkandang semakin menambah pesona alam di Kawah Sileri.

Kawah Sileri Dieng

Nama Sileri berasal dari Bahasa Jawa, yaitu "leri" yang berarti air cucian beras. Memang air di kawah Sileri bewarna putih pekat menyerupai air cucian beras sebelum dimasak.

Waktu terbaik menikmati panorama di Kawah Sileri adalah pagi hari, sekitar jam 06.00. Di pagi hari, uap air yang keluar dari kawah masih menempel di permukaan air, berwarna putih, dan jika ditunggu beberapa saat, seiring dengan terbitnya matahari, perlahan uap tersebut akan tampak seperti terangkat ke atas. Pemandangan seperti ini hanya dapat disaksikan dari kawah Sileri Dieng.

Minggu, 01 November 2015

Objek Wisata Sumur Jalatunda Dieng

Sumur Jalatunda merupakan salah satu objek wisata di wilayah Dataran Tinggi Dieng, masuk dalam kawasan wisata zona 2 Dieng. Secara administratif masuk dalam wilayah Desa Wisata Pekasiran ,Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tenggah. Sumur Jalatunda adalah tempat yang penuh misteri, baik mengenai sejarah terbentuknya maupun mitos-mitos yang berkembang di masyarakat.

Secara fisik bentuk Sumur Jalatunda memang tidak seperti sumur kebanyakan, tetapi lebih merupakan kubangan raksasa, dengan diameter hingga 90 meter dan kedalaman diperkirakan mencapai ratusan meter. Terlepas dari misteri yang menyelimuti dan mitos-mitas yang diyakini masyarakat, Sumur Jalatunda tetap menjadi objek wisata yang menarik untuk dikunjungi, sekaligus merupakan bahan kajian yang perlu mendapatkan perhatian untuk penelitian-penelitian ilmiah.

Sumur Jalatunda

Secara ilmiah, Sumur Jalatunda diperkirakan terbentuk akibat letusan gunung berapi purba jutaan tahun silam yang menyisakan kepundan berupa lubang besar berdiameter hingga 90 meter dan kedalaman ratusan meter. Kawah atau kepundan tersebut kemudian terisi air, menyerupai sumur raksasa. Fenomena terisinya kepundan kawah gunung berapi hingga menyerupai sumur hanya ada dua di dunia. Sumur sejenis dapat ditemukan di daerah Mexico.

Pemberian nama Sumur Jalatunda memang erat kaitannya dengan cerita pewayangan. Dikisahkan dalam cerita Mahabarata, Sumur Jalatunda merupakan jalan menuju ke Jangkar Bumi atau Bumi Sapta Pratala, yaitu tempat dimana Hyang Antaboga dan puterinya, Dewi Nagagini, tinggal.

Dalam kisah tersebut, Raden Bratasena bertemu dengan Dewi Nagagini, yang kemdian menikah dan diberi karunia seorang putera bernama Raden Antareja. Terdapat juga mitos yang berkembang di masyarakat setempat, bahwa Sumur Jalatunda merupakan salah satu gerbang gaib yang menghubungkan Dataran Tinggi Dieng dengan penguasa di Laut Selatan.

Sabtu, 31 Oktober 2015

Pesona Sunset Di Batu Pandang Ratapan Angin Dieng

Tak hanya menawarkan pemandangan Golden Sunrise yang spektakuler di Bukit Sikunir, Dataran Tinggi Dieng juga memiliki pesona sanset yang luar biasa, yakni di Batu Pandang Ratapan Angin, sebuah lokasi di sebelah selatan Telaga Warna. Ya sajian pemandangan yang sangat memukau tatkala Anda berada di Dieng.

Batu Pandang Ratapan Angin adalah sebuah bukit di sebelah selatan Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Merupakan salah satu spot terbaik untuk menikmati pesona telaga warna dan telaga pengilon dari ketinggian. Ya, kedua telaga tersebut dikelilingi oleh perbukitan tampak begitu elok. Tak mengherankan jika banyak wisatawan yang berkunjung ke lokasi tersebut pada pagi hari, saat sinar matahari belum begitu terik.

Dengan topografi berbatu dan bertebing curam, Batu Pandang Ratapan Angin menjadi spot yang banyak diburu oleh wisatawan. Namun, tempat wisata ini tak hanya menyuguhkan pesona pemandangan telaga warna yang tampak begitu cantik pada pagi hari, tetapi juga sajian panorama sunset yang sangat eksotis.

Batu Pandang Ratapan Angin Dieng

Tim Calya Wisata mencoba membuat trip ke Batu Pandang Ratapan Angin pada sore hari, menemani sejumlah wisatawan domestik dan dua orang wisatawan asing, menjajal berburu momentum paling langka dari belahan bumi manapun. Ya, perjalanan kami tidaklah sia-sia, meskipun pemandangan area telaga sudah agak tertutup kabut, namun sensasi memukau matahari terbenam benar-benar menghadirkan kepuasan yang tak terkira.

Pesona Sunset Di Batu Pandang Ratapan Angin

Luar biasa, spot yang sangat ideal untuk menikmati pesona sunset di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Tak kalah spektakulernya dengan Golden Sunrise Sikunir. Penasaran dengan pesona pemandangan di Kawasan Wisata Dieng? Hubungi kami untuk menemani perjalanan Anda.

Sabtu, 24 Oktober 2015

Objek Wisata Kawah Candradimuka Dieng

Kawah Candradimuka merupakan kawah aktif di Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng. Meskipun kurang populer, namun Kawah Candradimuka tetap menjadi destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Seperti halnya kebanyakan objek wisata di Dieng, nama Kawah Candradimuka juga diambil dari cerita pewayangan, yang merupakan tempat dimana jabang bayi Gathotkaca digembleng dan mendapatkan kesaktian.

Kawah ini berada di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Karena posisinya cukup jauh dari zona 1, yang merupakan kawasan wisata paling populer, maka Kawah Candradimuka kurang diminati oleh wisatawan, sehingga objek wisata ini hampir selalu sepi pengunjung.

Kawah ini memiliki keunikan sendiri yang membuatnya berbeda dengan kawah Sikidang maupun Sileri. Letupan dahsyat dan suara gemuruh yang keluar dari perut bumi merupakan ciri khas Kawah Candradimuka, sehingga terkesan sangat ganas. Memang gejolak aktivitas vulkanik di kawah ini tampak sangat kuat, seolah mengeluarkan letupan-letupan yang ganas.

Foto Kawah Candradimuka

Kawah Candradimuka Dieng

Kawah Candradimuka Dieng


Akses Jalan Menuju Kawah Candradimuka

Untuk menuju ke lokasi Kawah Candradimuka membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit berkendara dari kawasan wisata utama Dieng. Oleh karena itulah wisatawan lebih cenderung untuk memilih tidak berkunjung ke kawah ini, karena memang memakan waktu cukup lama. Berada di area zona 2 kawasan wisata Dieng, membuat Kawah Candradimuka menjadi objek wisata yang sepi pengunjung.

Dari pertigaan Desa Dieng atau tugu "Welcome To Dieng Wonosobo", ambil jalan ke arah Batur. Setelah berjalan sejauh kurang lebih 3 kilometer, Anda akan menjumpai pertigaan, ambil jalan arah kanan yang menuju ke Desa Kepakisan atau Desa Pekasiran. Perjalanan melalui jalan berliku dengan pemandangan ladang-ladang pertanian dan bukit-bukit yang menjulang tinggi.

Setelah menempuh jarak kurang lebih 4 kilometer dari pertigaan tersebut, akan menjumpai gerbang bertuliskan "Kawah Candradimuka" yang berada di sisi kanan jalan. Dari gerbang "Kawah Candradimuka", wisatawan harus melewati jalan menanjak dan berbatu sejauh 1,4 kilometer. Perjalanan yang cukup panjang, melewati dua desa, yaitu Desa Kepakisan dan Pekasiran, membuat objek wisata ini tidak begitu diminati.

Senin, 19 Oktober 2015

Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng

Nama Dataran Tinggi Dieng mungkin sudah menggema di seantero negeri yang dikenal juga dengan istilah Kahyangan Para Dewa atau Negeri Di Atas Awan. Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng adalah sebuah bentangan permukaan alam di wilayah Dataran Tinggi Dieng yang batas-batasnya ditentukan berdasarkan aspek pariwisata. Kawasan wisata ini dikunjungi menjadi destinasi liburan banyak orang karena memang memiliki daya tarik yang cukup unik, yaitu perpaduan antara keindahan alam, budaya, dan peninggalan sejarah.

Secara administratif, sebagian besar Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng masuk dalam wilayah Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara yang saat ini menjadi andalan pariwisata Jawa Tengah. Dataran Tinggi Dieng telah masuk dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPP) Jawa Tengah Tahun 2004 sebagai salah satu "Kawasan Andalan". Oleh karena itulah kawasan tersebut terus dikembangkan secara komprehensif.

Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng

Semenjak munculnya Bukit Sikunir sebagai objek wisata di Dataran Tinggi Dieng, kegiatan pariwisata di kawasan tersebut semakin menggeliat. Tak heran jika Pemerintah Provinsi Jawa Tengah beserta Pemerintah Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegera terus memacu pembangunan prasarana dan sarana secara terpadu, sehingga fasilitas dan daya dukung industri pariwisata lebih memadai.

Tidak hanya berfungsi sebagai kawasan wisata, Dataran Tinggi Dieng juga berperan sebagai Kawasan Strategis dengan fungsi sebagai kawasan lindung. Untuk mengoptimalkan pengelolaan kawasan wisata, Dataran Tinggi Dieng juga dipetakan menjadi dua kawasan, yaitu Kawasan Poros dengan objek wisata yang berperan sebagai ikon dan penggerak utama aktivitas pariwisata, serta Kawasan Jeruji, dengan objek wisata yang mendukung aktivitas pariwisata di Kawasan Poros.

Objek wisata yang saat ini sedang melambung adalah Sikunir dengan fenomena Golden Sunrise, menggema di seluruh nuasantara. Banyak wisatawan mengklaim bahwa Golden Sunrise Sikunir dengan perpaduan alam pegunungan yang begitu sempurna, menjadi fenomena sunrise terbaik di Nusantara.

Selain Sikunir, kawasan Telaga Warna juga kembali menggeliat, banyak diburu wisatawan dari berbagai daerah. Semenjak dibukanya Bukit Sidengkeng dan Batu Pandang Ratapan Angin, untuk menikmati pendangan spektakuler dua telaga kembar (Telaga Warna dan Telaga Pengilon), kawasan Telaga Warna kembali menarik minat para wisatawan.

Lihat ulasan lain tentang Dataran Tinggi Dieng.

Minggu, 18 Oktober 2015

Objek Wisata Bukit Sidengkeng Dieng

Dieng memang tak pernah berhenti menghadirkan kepuasan dan kekaguman bagi setiap wisatawan. Tak jarang orang yang sudah berkunjung ke Dieng ingin kembali merasakan suasana harmonis, romantis, dan dikelilingi pemandangan nan eksotis. Ya, hanya Dieng yang mampu memberikan segalanya bagi setiap orang. Suasana segar di pegunungan merupakan ciri khas Dataran Tinggi Dieng yang banyak diburu wisatawan, terutama dari kota-kota besar.

Salah satu objek wisata yang sangat populer adalah Telaga Warna. Untuk menikmati Si cantik Telaga Warna memang dapat dilakukan dari berbagai penjuru. Bukit Sidengkeng merupakan salah satu spot terbaik untuk menikmati keelokan Telaga Warna dan Telaga Pengilon, dua telaga kembar di kawasan Dieng Plateau. Objek wisata ini merupakan puncak dari beberapa perbukitan yang mengelilingi kawasan Telaga Warna.

Bukit Sidengkeng

Telaga Warna memang termasuk salah satu wanawisata, menyuguhkan pemandangan yang sangat elok, dengan warna-warni airnya, dan dikelilingi oleh perbukitan yang menjulang tinggi. Pesona Telaga Warna yang begitu jelita ini semakin memukau ketika dilihat dari atas Bukit Sidengkeng.

Untuk mencapai Bukit Sidengkeng memang cukup mudah, hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit melalui jalur trekking dari pintu masuk Wanawisata Petak 9 Dieng. Kondisi jalur yang cukup mudah membuat Bukit Sidengkeng menjadi destinasi yang banyak dikunjungi oleh wisatawan.

Bukit Sidengkeng

Pemandangan dari puncak Bukit Sidengkeng memang akan membuat setiap pengunjung terkagum-kagum. Sebuah view yang sangat eksotis, perpaduan antara dua telaga kembar di bagian bawah, dikelilingi oleh perbukitan hijau, serta berlatarbelakang pemandangan Gunung Sindoro dan Gunung Prau yang terlihat begitu perkasa.

Nama Sidengkeng sebenarnya hanya penalaran warga setempat, dimana perjalanan menuju ke puncak bukit tersebut terasa cukup berat, badan kita harus membungkuk-bungkuk (ndengkeng). Oleh karena itulah objek wisata yang menyuguhkan panorama eksotis ini disebut Bukit Sidengkeng.

Minggu, 11 Oktober 2015

Objek Wisata Telaga Pengilon Dieng

Telaga Pengilon merupakan salah satu objek wisata di Dieng Plateau, berada satu kawasan dengan Telaga Warna dan beberapa goa alam, seperti Goa Jaran dan Goa Sumur. Telaga Pengilon memiliki nuansa yang hening, penuh kesunyian, dan berbalut ketenangan, sehingga mampu memberikan kenyamanan bagi para pengunjungnya.

Terletak berdekatan dengan Telaga Warna, membuat dua telaga tersebut tampak seperti telaga kembar jika dilihat dari kejauhan. Kondisi airnya yang sangat jernih mampu menghadirkan perpaduan harmonis dengan air Telaga Warna yang tampak berwarna-warni.

Nama Telaga Pengilon diberikan lantaran air telaga tersebut tampak begitu jernih, bagaikan sebuah cermin raksasa. Dalam bahasa Jawa, kata "Pengilon" berarti "Cermin", lantaran memang kondisi airnya yang mampu memantulkan benda apa saja layaknya sebuah cermin.

Telaga Pengilon Dieng

Foto Telaga Pengilon


Keindahan Telaga Pengilon

Jika Anda ingin melihat dari dekat air Telaga Pengilon, hanya membutuhkan waktu beberapa menit berjalan kaki dari Telaga Warna, karena dua telaga tersebut hanya berjarak sekitar 150 meter. Di tepi Telaga Pengilon, wisatawan bisa menikmati pesona alam dengan bukit-bukit menjulang tinggi di sekelilingnya. Sebuah spot yang sangat bagus untuk para pemburu foto. Ekspresikan karya Anda dengan pengambilan foto-foto seni dari tepi Telaga Pengilon.

Telaga Pengilon Dieng

Foto Telaga Warna dan Telaga Pengilon


Mitos Telaga Pengilon

Konon Telaga Pengilon merupakan salah satu telaga yang dijadikan sebagai tempat mandi bidadari dari kahyangan. Setelah mandi, para bidadari bisa bercermin di Telaga Pengilon untuk melihat sisi baik dan baruk yang ada pada dirinya. Secara filosofis, berkaca di Telaga Pengilon merupakan upaya untuk mawas diri.

Penasaran dengan keindahan dan suasana mistis di Telaga Pengilon? Hubungi Calya Wisata untuk menemani perjalanan Anda ke Dieng.

Kamis, 08 Oktober 2015

Gunung Pakuwaja Dieng Wonosobo

Gunung Pakuwaja Dieng merupakan salah satu destinasi yang wajib dikunjungi oleh petualang sejati. Dari puncak bukit Pakuwaja, Anda bisa menyaksikan sajian pesona alam yang luar biasa. Inilah spot terbaik untuk menikmati landscape kawasan wisata Dieng yang bergunung-gunung. Dua telaga kembar, Telaga Warna dan Telaga Pengilon, tampak begitu anggun terlihat dari ketinggian, diselimuti kabut tipis pada siang hari, sehingga membuat pesona pemandangan indah terasa dihiasi suasana mistis.

Gunung Pakuwaja berada di sebelah Bukit Sikunir, yang namanya sudah melambung lebih dahulu sebagai destinasi wisata. Secara administratif masuk dalam wilayah Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Bagi para penggemar tracking, Pakuwaja tentu memiliki daya tarik tersendiri. Dengan ketinggian mencapai 2.410 meter di atas permukaan laut, Gunung Pakuwaja memiliki pesona yang tak kalah menariknya dengan Bukit Sikunir.

Gunung Pakuwaja Dieng

Pemandangan dari puncak Pakuwaja, Dieng


Salah satu keunikan Gunung Pakuwaja adalah keberadaan batu besar, berbentuk runcing, menjulang tinggi, menyerupai menhir atau paku raksasa, yang menurut kepercayaan masyarakat setempat merupakan pasaknya Pulau Jawa. Oleh karena keberadaan pasak inilah gunung tersebut diberi nama Gunung Pakuwaja.

Batu besar berbentuk paku tersebut diapit oleh bekas telaga yang airnya sudah mengering dan berbentuk seperti wajan atau penggorengan. Warga setempat menyebutnya Telaga Wurung. Menurut mitos yang berkembang di kawasan Dieng, air Telaga Wurung tersebut dialirkan menuju ke Telaga Cebong, yang berada di kaki antara Gunung Pakuwaja dan Sikunir.

Konon, menurut cerita legenda yang beredar di masyarakat Dieng, dikisahkan bahwa pada suatu masa, ketika Pulau Jawa belum berpenghuni dan terus bergejolak, Bathara Guru, dewa tertinggi dalam kisah pewayangan, mengambil sebagian puncak Gunung Himalaya, dan ditancapkan sebagai pasak tepat di tengah-tengah Pulau Jawa. Puncak inilah yang saat ini dikenal sebagai kawasan Dieng Plateau.

Jalur Pendakian Gunung Pakuwaja

Ada tiga jalur yang dapat dilalui untuk mencapai puncak Pakuwaja, yaitu Jalur dari Desa Parikesit, Desa Dieng (melalui jalur di depan Dieng Plateau Theater), dan Desa Sembungan. Dari ketiga jalur tersebut, jalur dari Desa Sembungan merupakan jalur terpendek, hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu setengah jam untuk mencapai puncak.

Karena belum ada tanda-tanda petunjuk jalan, para pendaki bisa bertanya kepada para petani yang banyak dijumpai di sepanjang jalur pendakian. Lebih disarankan menggunakan jasa pemandu yang sudah berpengalaman, terutama jika pendakian dilakukan pada malam hari.

Setengah lebih lereng Pakuwaja adalah lahan kentang, sehingga pendakian harus dilakukan melalui lahan-lahan milik petani. Setelah melewati lahan kentang, rerumputan ilalang setinggi dada siap menyambut perjalanan para pendaki yang tentu sedikit menyulitkan.

Lepas dari perjalanan yang cukup melelahkan dan tiba di Puncak Pakuwaja, wisatawan akan disambut dengan pemandangan yang tak kalah cantiknya dengan puncak-puncak lain di Sikunir. Sebuah sajian pemandangan yang khas, penuh misteri, dan bernuansa mistis.

Di batu raksasa berbentuk paku, terdapat goa yang dijadikan sebagai tempat meletakkan sesaji, berupa dupa, bunga, rokok, dll. Pada hari-hari tertentu, terutama pada malam Jumat Kliwon (dalam penanggalan Jawa) ada masyarakat yang masih melakukan ritual kepercayaan. Sementara di area Telaga Wurung, para pendaki bisa mendirikan tenda untuk menunggu momentum surise yang sangat dinantikan.

Minggu, 04 Oktober 2015

Gardu Pandang Tieng

Dieng memang memiliki berjuta pesona yang sangat menawan. Banyak objek wisata menarik untuk dikunjungi. Menyuguhkan pemandangan alam nan eksotis yang bisa dinikmati dari segala penjuru. Salah satu lokasi yang sering dijadikan sebagai tempat untuk menikmati keindahan panorama Dieng adalah Gardu Pandang Tieng. Tempat ini menjadi lokasi ideal untuk menikmati keindahan sunrise di kawasan wisata Dieng.

Gardu Pandang Tieng

Gardu Pandang Tieng berada di ketinggian 1789 meter di atas permukaan laut, secara administratif masuk dalam wilayah Desa Tieng, Kecamatan Kejajar. Lokasinya sebelum pintu masuk kawasan wisata Dieng, tepat setelah tanjakan 15%, dari arah Wonosobo sebelah kanan jalan. Banyak wisatawan yang menyempatkan transit di Gardu Pandang Tieng untuk menikmati hamparan ladang kentang dari ketinggian sebelum masuk ke kawasan wisata Dieng.

Gardu Pandang Tieng

Tak hanya menikmati keindahan kaki pegunungan Dieng, Gardu Pandang Tieng juga menjadi tempat alternatif untuk berburu sunrise. Salah satu keunggulan objek wisata ini adalah lokasinya yang mudah dijangkau. Berada di tepi Jalan Raya Wonosobo - Dieng, sehingga mudah dijangkau oleh wisatawan. Tak mengherankan jika banyak wisatawan yang tidak sempat berburu sunrise ke Sikunir akan mengunjungi tempat ini saat pagi hari, terutama beberapa jam menjelang matahari terbit.

Gardu Pandang Tieng

Senin, 28 September 2015

Paket Wisata PreWedding Ke Dieng Plateau

Prewedding merupakan satu acara yang banyak diburu terutama oleh calon pengantin baru. Kali ini Calya Wisata menawarkan paket wisata yang benar-benar berbeda, inovasi dan terobosan yang merupakan kreatifitas sebuah tim yang solid. Berwisata sekaligus pengambilan foto-foto prewedding tentu merupakan satu perjalanan yang menarik, penuh dengan pengalaman tak terlupakan. Paket Wisata PreWedding Ke Dieng Plateau merupakan satu produk yang sengaja dirancang untuk memberikan fasilitas kepada calon pasangan atau pengantin baru. Hubungi kami di 085200096334 - 085600096011 - 087705597000.

Raih Pengalaman Paling Berharga, Prewedding ke Dieng

Wujudkan impian dan raih pengalaman paling berharga dalam perjalanan hidup Anda. Pengambilan foto prewedding sekaligus menikmati keindahan alam Dataran Tinggi Dieng, tentu menjadi satu momentum yang benar-benar berkesan. Pengalaman langka, unik, dan spektakuler.

Dengan tim handal yang penuh kreatifitas, berpengalaman, dan profesional dalam bidangnya, kami mampu merancang satu konsep spesial, Paket Wisata PreWedding Ke Dieng Plateau. Ya, pasti Anda sangat penasaran bagaimana pengalaman-pengalaman spektakuler dalam paket wisata kami. Segera bergabung bersama Calya Wisata untuk mendapatkan fasilitas superior dan layanan berkualitas istimewa.

Wisata Dieng

Kawasan Wisata Dieng


Biaya Paket Wisata PreWedding Ke Dieng Plateau

Tidak perlu mengeluarkan biaya mahal untuk mendapatkan pengalaman spektakuler bersama Calya Wisata. Dapatkan Paket Wisata PreWedding Ke Dieng Plateau dengan biaya sebesar Rp 6.000.000,- untuk dua orang (satu pasang calon pengantin). Ambil keputusan tepat, sebelum momentum bersejarah dalam hidup Anda lewat.

Fasilitas dan Layanan
  • Fotografer Profesional
  • Cetak 16R 3 lembar
  • Dokumentasi file-file pilihan
  • Tiket masuk lokasi zona 1 (Telaga Warna, kawasan candi, bukit Sidengkeng, dan Batu Pandang Ratapan Angin)
  • Penginapan papan atas di wilayah Dieng
  • 4 kali makan
  • Sarana transportasi

Ketentuan
  • Paket tersebut untuk dua orang calon pengantin.
  • Jika calon pengantin mengajak peserta lain (perias atau penata busana), maka akan dikenakan tambahan biaya tersendiri, sebesar Rp 200.000,- per orang.
  • Jumlah peserta paling banyak 4 orang.
  • Uang muka sebesar 50% sebagai tanda jadi.

Jumat, 25 September 2015

Objek Wisata Batu Pandang Ratapan Angin Dieng

Dieng tak akan pernah berhenti menyuguhkan keindahan-keindahan alam nan eksotis. Selain kawasan Telaga Warna yang penuh dengan nuansa mistis, kompleks percandian yang menyuguhkan warisan budaya adi luhung, Bukit Sikunir dengan pesonan Golden Sunrise yang konon merupakan sunrise terindah di Indonesia, juga terdapat satu objek wisata lagi yang tak kalah menariknya, yakni Batu Pandang Ratapan Angin yang menawarkan view dua telaga kembar dari ketinggian.

Batu Pandang Ratapan Angin merupakan satu objek wisata yang tidak boleh ditinggalkan saat Anda berkunjung ke kawasan wisata Dieng. Pasalnya, objek wisata yang satu ini menawarkan pesona pemandangan alam sangat mengagumkan, sebuah lukisan mahakarya dari Sang Pencipta. Terdapat berbagai spot menarik untuk pengambilan foto-foto seni, maupun selfie, tak mengherankan jika kawasan ini selalu diburu oleh wisatawan untuk mengabadikan kunjungannya ke Dieng Plateau.

Batu Pandang Ratapan Angin berada di dekat Gunung Pakuwaja, Dieng, di sebelah selatan kawasan Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Wisatawan bisa menuju ke objek wisata tersebut melalui pintu masuk yang berada satu lokasi dengan Dieng Plateau Theater. Dari pintu parkir Dieng Plateau Theater ada petunjuk arah untuk menuju Batu Pandang Ratapan Angin.

Batu Pandang Ratapan Angin

Akses Jalan Ke Batu Pandang Ratapan Angin


Jalan setapak yang tersusun atas ratusan anak tangga akan membibing Anda untuk menikmati sajian pesona alam yang sangat mengagumkan. Memang dibutuhkan stamina cukup kuat agar bisa mencapai lokasi. Namun, Anda tidak perlu khawatir, karena jalur yang dilalui sudah ditata sedemikian rupa, sehingga memudahkan para pengunjung. Hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk mencapai lokasi di ketinggian.

Batu Pandang Ratapan Angin

Tracking Ke Batu Pandang Ratapan Angin


Kelelahan Anda akan terbayar begitu mencapai area batu pandang. Sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan terpampang di depan mata. Wisatawan akan menyaksikan sajian pemandangan eksotis dua telaga kembar dari ketinggian. Saatnya berburu spot paling menarik untuk mengabadikan perjalanan liburan Anda.

Batu Pandang Ratapan Angin

Melepas Lelah Saat Perjalanan Ke Batu Pandang Ratapan Angin


Sebuah perjalanan liburan yang sangat memuaskan, tak cukup rasanya waktu 1-2 jam saja untuk menikmati keindahan yang begitu menawan. Tak jarang area di Bukit Sidengkeng ini dijadikan sebagai lokasi pengambilan foto prewedding. Hampir setiap pengunjung merasa terkagum-kagum dengan pesona keindahan panorama alam yang benar-benar memanjakan mata.

Batu Pandang Ratapan Angin

Pesona Pemandangan Batu Pandang Ratapan Angin


Penasaran dengan Batu Pandang Ratapan Angin? Hubungi kami, Calya Wisata - 085200096334, 085600096011, 087705597000, untuk mempersiapkan seluruh akomodasi perjalanan Anda.

Selasa, 22 September 2015

Objek Wisata Kawah Sikidang Dieng

Kawah Sikidang adalah salah satu objek wisata yang berada di kawasan vulkanik Dataran Tinggi Dieng, merupakan kawah yang paling populer dibanding kawah-kawah lain di Dieng karena memiliki akses paling mudah untuk dijangkau. Kawah seluas 200 m2 ini berada di wilayah Desa Dieng Kulon, hanya berjarak kurang lebih 800 meter dari objek wisata Telaga Warna dan 1,5 kilometer dari Kompleks Candi Arjuna.

Berada di area datar, dikelilingi batuan belerang, dan mengepulkan uap panas disertai gejolak air mendidih berwarna kelabu. Kandungan belerang yang sangat tinggi membuat kawah tersebut mengeluarkan bau sangat menyengat, sehingga wisatawan yang berkunjung harus menggunakan masker sebagai penutup hidung. Namun begitu, bau menyengat tersebut tidak menghalangi minat wisatawan untuk berkunjung.

Kawah Sikidang

Kawah Sikidang


Nama Kawah Sikidang sangat populer, karena memang memiliki karakter sangat unik, dimana lubang utama semburan lumpur mendidih selalu berpindah-pindah tempat dalam satu area yang luas. Oleh karena itulah, penduduk setempat memberinya nama Kawah Sikidang, bagaikan seekor kidang (rusa) yang selalu melompat-lompat dari satu tempat ke tempat lain.

Kawah Sikidang menghadirkan nuansa lain di kawasan wisata Dieng. Pemandangan alam nan hijau menyegargan mendadak lenyam dari pandangan mata begitu Anda memasuki area kawah. Sejauh mata memandang tampak hamparan tanah dan batuan belerang yang tampak tandus. Area perbukitan yang terlihat jauh mengelilingi area kawah memberikan kesan bahwa area tersebut menyerupai sebuah kaldera yang sangat besar.

Kawah Sikidang

Lokasi Kawah Sikidang


Perlu diingat, saat Anda mengunjungi lokasi kawah Sikidang, dilarang untuk menyalakan api atau rokok karena sangat berbahaya. Wisatawan juga harus hati-hati saat melangkah, pilihlah area tanah yang kering sebagai pijakan. Di beberapa tempat terlihat tanah mengeluarkan asam dari lubang-lubang kecil. Tanah tersebut sangat berbaya karena sangat rapuh. Hindari berjalan kaki di sekitar tanah yang tampak basah, apalagi mengeluarkan asap.

Bau belerang sangat menyengat, semakin mendekati kawah, bau terasa semakin kuat dan menusuk hidung. Wisatawan bisa membeli masker yang dijajakan oleh warga setempat di lokasi wisata. Tak jauh dari tempat parkir, Anda akan menjumpai kios-kios pedagang yang menjajakan cinderamata, makanan dan minuman, dll.

Minggu, 20 September 2015

Rangkaian Acara Opentrip Gelar Budaya Babad Dieng

Even Gelar Budaya Babad Dieng dimulai tanggal 14-18 Oktober 2015. Untuk menghemat waktu liburan dan biaya perjalanan para wisatawan, kami menyelenggarakan Open Trip selama 4 hari 3 malam, dimulai tanggal 15 Oktober dan selesai tanggal 18 Oktober 2015. Untuk memberikan deskripsi lebih detail mengenai even tersebut, berikut kami berikan rangkaian acara Open Trip Gelar Budaya Babad Dieng.

Gelar Budaya Babad Dieng

Susunan Acara Opentrip Gelar Budaya Babad Dieng


15 Oktober 2015
  • 09.00
    Penjemputan di Meeting Point
    Lokasi : Yogyakarta/Purwokerto
  • 09.00 - 12.00
    Perjalanan ke Wonosobo
  • 12.00 - 13.00
    Istirahat dan Makan Siang
    Lokasi : Wonosobo
  • 13.00 - 14.00
    Melanjutkan perjalanan di Dieng
  • 14.00 - 15.00
    Pendaftaran Peserta Opentrip ke Pokdarwis Sembungan (Untuk Rute Sikunir)
    Lokasi : Desa Sembungan
  • 15.00
    Checkin penginapan
    Peserta disarankan istirahat, karena pendakian ke Bukit Sikunir dimulai jam 04.00 WIB
    Lokasi : Dieng
16 Oktober 2015
  • 03.00 - 04.00
    Persiapan pendakian Bukit Sikunir
  • 04.00 - 04.45
    Pendakian Bukit Sikunir
    Bagi yang beragama Islam, sholat subuh bisa dilakukan di atas bukit
  • 04.45 - 05.30
    Menanti kemunculan Golden Sunrise
    Lokasi : Puncak Bukit Sikunir
  • 05.30 - 07.00
    Berburu momentum sunrise paling Indah. Cari spot paling ideal untuk mengabadikan kunjungan Anda.
  • 07.00 - 08.00
    Bersantai sambil menikmati keindahan pemandangan dari puncak Sikunir. Berfoto-foto untuk mengambil gambar terbaik.
  • 08.00 - 08.30
    Peserta Opentrip turun ke basecamp
  • 08.30 - 09.00
    Menikmati minuman kopi/teh hangat
    Sarapan
    Menyaksikan pertunjukan Kesenian Tradisional
    Lokasi : Lapangan Desa Sembungan
  • 09.00 - 11.00
    Seminar dan sarasehan Budaya
    Lokasi : Suharto whitlem
  • 11.00 - 13.00
    Istirahat
    Makan siang
  • 13.00 - 15.00
    Pameran Benda-benda Pusaka
    Lokasi : Homestay Ratu
  • 15.00
    Kembali ke homestay dan istirahat
17 Oktober 2015
  • 07.00 - 08.00
    Sarapan
  • 08.00 - 09.00
    Menikmati pemandangan eksotis Telaga Warna saat pagi hari
  • 09.00 - 10.00
    Menyaksikan Film Dokumenter di Dieng Plateau Theater
  • 10.00 - 11.00
    Kawah Sikidang
  • 11.00 - 12.00
    Kompleks Candi Arjuna
  • 12.00 - 13.00
    Makan siang
  • 13.00
    Kembali ke homestay dan istirahat
    acara dilanjutkan malam hari
  • 18.00 - 18.30
    Pembukaan Tari Pendet dari Bali
    Lokasi : Pendopo Eks Dieng Djaya
  • 19.30 - 21.00
    Opera Mahabarata (Sendratari Semar Mbangun kahyangan)
    Lokasi : Pendopo Eks Dieng Djaya
  • 21.15 - 21.30
    Sendratari Ngupadi
    Lokasi : Pendopo Eks Dieng Djaya
  • 21.30 - 22.00
    Doa bersama Lintas Agama
    Penyalaan Lentera 1001 Impian
    Penulisan Doa diatas Bambu dimasukan ke Gentong Besar 1001 Impian/angan
    (ditutup dengan tari Mahapati dari bali)
    Lokasi : Pendopo Eks Dieng Djaya
18 Oktober 2015
  • 10.00 - 10.30
    Sendratari Hangruwat
    Lokasi : Pendopo Eks Dieng Djaya
  • 11.00 - 11.45
    Tradisi Momongi
    Kembul bujana dan Ngarap berkah Apem Dieng
    Lokasi : Pendopo Eks Dieng Djaya
  • 11.45 - 12.00
    Sendratari Kidung Serayu
    Lokasi : Pendopo Eks Dieng Djaya
  • 12.00 - 12.30
    Pembagian Hadiah Lomba
    Lokasi : Pendopo Eks Dieng Djaya
  • 12.30 - 13.00
    Penutup
    Lokasi : Pendopo Eks Dieng Djaya